Polemik Ibadah Haji Virtual Melalui Metaverse, MUI Sebut Tak Memenuhi Syarat, Ini Penjelasannya

Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan penjelasan soal polemik ibadah haji melalui Metaverse, sebut tidak sah.

Penulis: Tribun Network | Editor: Reza Dwi Wijayanti
TRIBUNSOLO.COM/ ASEP ABDULLAH ROWI
Ilustrasi : Umat muslim saat menunaikan ibadah di Kabah di Mesjid Raya di kota suci Mekah, Arab Saudi 

TRIBUNSOLO.COM - Belakangan ini ibadah haji melalui Metaverse menjadi polemik di kalangan masyarakat.

Hal ini berawal dari inisiatif Arab Saudi telah menghadirkan hajar aswad, sebuah batu hitam yang terletak di tenggara Kabah, di dalam metaverse pada Desember tahun lalu.

Seperti diketahui, metaverse merupakan sebuah ruang virtual yang memanfaatkan teknologi virtual reality (VR) dan augmented reality (AR) yang memungkinkan semua orang untuk berkumpul dan berinteraksi.

Baca juga: Sempat Kosong, RS Darurat Covid-19 di Asrama Haji Donohudan Disiapkan Lagi, Antisipasi Ledakan Kasus

Baca juga: Pendaftar Haji di Boyolali Menurun 50 Persen Selama Pandemi Corona, Pengaruh Ekonomi & Waktu Tunggu

Menanggapi kontroversi tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan penjelasan.

Dilansir dari Tribunnews, MUI menyebut jika ibadah haji secara virtual tidak sah.

Hal ini diungkap Ketua Bidang Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh.

Pasalnya, aktifitas ibadah haji merupakan ibadah mahdlah yang tata cara pelaksanaannya sudah ditentukan.

"Haji itu merupakan ibadah mahdlah, besifat dogmatik, yang tata cara pelaksanaannya atas dasar apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi SAW," kata Niam saat dikutip dari Kompas.com via Tribunnews, Rabu (9/2/2022).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ada beberapa aktifitas ibadah dalam haji yang membutuhkan kehadiran fisik dan terkait dengan tempat tertentu, seperti thawaf.

Tata cara thawaf adalah mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali putaran dimulai dari sudut hajar aswad (secara fisik) dengan posisi Kabah berada di sebelah kiri jemaah.

"Manasik haji dan umrah tidak bisa dilaksanakan dalam hati, dalam angan-angan, atau secara virtual, atau dilaksanakan dengan cara mengelilingi gambar Kabah atau replika Kabah," jelasnya.

Terkait platform untuk kunjungan Kabah secara virtual melalui metaverse, menurut MUI bisa dimanfaatkan untuk mengenali lokasi yang dijadikan tempat pelaksanaan ibadah haji.

Baca juga: Pendaftar Haji di Boyolali Menurun 50 Persen Selama Pandemi Corona, Pengaruh Ekonomi & Waktu Tunggu

Selain itu, kunjungan virtual juga bisa dilakukan untuk persiapan pelaksanaan ibadah atau biasa disebut sebagai latihan manasik haji atau umrah.

"Kunjungan ke Kabah secara virtual bisa dioptimalkan untuk explore dan mengenali lebih dekat, dengan 5 dimensi, agar ada pengetahuan yang utuh dan memadai sebelum pelaksanaan ibadah.

"Teknologi yang mendorong pemudahan, tapi pada saat yang sama harus faham, tidak semua aktifitas ibadah bisa digantikan dengan teknologi," ungkapnya.

(*)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved