Berita Karanganyar Terbaru

20 Persen Masyarakat Jateng Belum Dapat Layanan PDAM, Masih Ada Persoalan Sumber Air Baku 

Sebanyak 20 persen penduduk di Jawa Tengah (Jateng) belum mendapatkan layanan dari PDAM. 

surabaya.tribunnews.com/david yohanes
Ilustrasi seorang warga memeriksa aliran air PDAM. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Sebanyak 20 persen penduduk di Jawa Tengah (Jateng) belum mendapatkan layanan dari PDAM

Hal ini disebabkan lantaran berbagai hal, diantaranya soal sumber air baku sampai kebocoran pipa. 

Ketua Perwakilan Daerah Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) Jawa Tengah Mochamad Haryo Nugroho mengatakan, sampai saat ini belum seluruh masyarakat di Jateng mendapat pelayanan PDAM.

Baca juga: Limbah Tekstil Dibuang Langsung Ke Kali Jenes, PDAM Solo: Ancam Kualitas Air 

Baca juga: ASN Kecamatan Juwangi Ditangkap Polisi, Tipu Korban Rp 70 Juta: Janjikan Jadi Karyawan PDAM Boyolali

"Masih ada kira-kira 20 persen yang belum terlayani atau terjangkau di Jawa tengah," kata Haryo, kepada TribunSolo.com di Karanganyar, Jum'at (25/2/2022).

Pria yang juga menjabat Dirut PDAM Kota Magelang ini mengatakan, sebanyak 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah memiliki problem spesifik penyediaan air bersih dari perusahaan daerahnya.

Dia mengaku semua pihak berusaha memaksimalkan layanan sampai ke pelosok dan terus dicari pemecahannya. 

"Kami terus mendorong PDAM se Jateng untuk memasang perpipaan sampai ke permukiman di wilayah rawan kekeringan serta menambah sumber air baku meski itu sulit, saya menyadari sebagian wilayah Jawa Tengah bukanlah gentong air," ucap Haryo.

Ia menyebut lumbung air di Jawa Tengah berada di Wonosobo, Magelang dan Tegal, sementara itu daerah lain didorong untuk membuat air baku dengan inovasi-inovasi.

Baca juga: PNS Juwangi Jadi Calo Bisa Masukkan Orang ke PDAM Boyolali, Aksi Kibulnya Bisa Raup Uang Rp 400 Juta

Hal tersebutlah yang menyebabkan harga jual air PDAM antar daerah berlainan, sehingga untuk menyeragamkan harganya pun sulit. 

"Kami sedang meminta data di tiap PDAM di Jateng, mana saja yang memanfaatkan atau mengolah mata air dan mana yang air permukaan," tutur Haryo. 

Dia menjelaskan, gangguan layanan juga masih menjadi kendala klasik performa PDAM di hampir semua daerah, salah satunya kebocoran pipa merupakan problem paling umum. 

Lanjut, ia memberi contoh pipa penyalur air bersih yang tertanam di dalam tanah di Kota Magelang pecah sehingga PDAM merugi ratusan juta rupiah pada 2021 lalu yang dipicu pembuatan drainase jalan milik provinsi. 

"Perbaikan dan pemeliharaannya mahal, apalagi masalah tingkat kebocoran. Saya rasa PDAM lainnya mengalami masalah serupa. Namun kita bersama-sama terus berbenah. Kemitraan dengan Pemda menjadi penting. Optimalisasi unit usaha juga sangat dianjurkan," katanya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved