Berita Solo Terbaru

Setahun Kepemimpinan Gibran-Teguh, Ini Harapan Tukang Becak di Solo: Minta Diperhatikan

Hari ini, masa jabatan Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa sebagai Wali Kota Solo dan Wakil Wali Kota Solo genap 1 tahun, Sabtu (26/2/2022).

TribunSolo.com/Agil Tri
Tukang becak, Warga Gilingan, Banjarsari, Mesdi (56). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Hari ini, masa jabatan Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa sebagai Wali Kota Solo dan Wakil Wali Kota Solo genap 1 tahun, Sabtu (26/2/2022).

Dalam satu tahun kepemimpinan Gibran-Teguh ini, ekonomi kreatif dan digital menjadi program unggulan.

Namun, bagi tukang becak di Solo, hal itu justru berdampak pada sepinya penumpang.

Baca juga: Setahun Gibran Memimpin Solo, Ini Lima Pekerjaan Rumah Versi PKS: Soroti Soal Cara Komunikasi

Baca juga: Buruh Solo Ngadu Soal JHT ke Gibran, Yakini Posisi Anak Presiden Bisa Bawa Aspirasi ke Menteri Ida

Menurut salah satu tukang becak, Warga Gilingan, Banjarsari, Mesdi (56), selama satu tahun terakhir dirinya kesulitan mencari penumpang.

Kondisi ini merupakan yang terparah selama 20 tahun dia bekerja menjadi tukang becak.

"Ekonomi agak sulit, sekarang cari penumpang becak susah. Paling sehari cuma dapat 1 penumpang," katanya, Sabtu (26/2/2022).

Sepinya penumpang ini dirasakan karena adanya pandemi covid-19.

Baca juga: Lima Sorotan PKS Setahun Kepemimpinan Gibran-Teguh: PAD Turun hingga Penduduk Miskin Meningkat 

Selain itu, tukang becak juga sudah kalah saing dengan moda transportasi umum lain yang berbasis online.

Mesdi biasanya mangkal di belakang Terminal Tirtonadi.

"Sekarang ada online-online itu, jadi susah. Ya, kita diakomodir dan diperhatikan juga," ucapnya.

Selain itu, dia juga mengeluhkan banyak lokasi yang dijadikan tempat parkir.

Termasuk jalur lambat yang kini sudah banyak dijadikan tempat parkir.

Baca juga: 500 Nakes Lebih di Solo Positif Covid-19, Gibran Siapkan Relawan Jika Layanan Kesehatan Terganggu

Sehingga dirinya semakin susah mencari tempat strategis untuk mangkal.

"Seperti jalan dari Pasar Klewer hingga Matahari, sekarang sudah dijadikan parkiran semua. Kita mangkal disana diusir sama tukang parkirnya," ucapnya.

"Sehari bisa dapat Rp 50ribu sudah bagus sekali. Malah pernah 3 hari berturut-turut gak dapat penumpang. Terpaksanya ngutang dulu," imbuhnya.

Kendati demikian, dia mengaku puas dengan pelayanan publik semasa kepimpinan Gibran-Teguh.

Pasalnya, mereka responsif dalam menanggapi aduan dari masyarakat.

"Kalau bantuan seperti PKH saya dapat. Tapi untuk tukang becak, saya minta lebih diperhatikan lagi," pungkasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved