DNES 2022, Ketua Kadin Indonesia : Nilai Transaksi Digital 2021 Capai Rp 1 Kuadriliun

Ketua Kadin Indonesia, M. Arsjad Irsjad mengatakan, intensitas digital mempengaruhi masyarakat dalam melakukan konsimsi secara digital atau online.

Penulis: Agil Trisetiawan | Editor: Adi Surya Samodra
TribunSolo.com / Agil Tri
Ketua Kadin Indonesia, M. Arsjad Irsjad saat membuka Digitalisasi Nusantara Expo dan Summit (DNES) 2022 di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) secara virtual, Selasa (29/3/2022) 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Ketua Kadin Indonesia, M. Arsjad Irsjad mengatakan, intensitas digital mempengaruhi masyarakat dalam melakukan konsimsi secara digital atau online.

Dalam sambutannya acara Digitalisasi Nusantara Expo dan Summit (DNES) 2022 di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dia mengapresiasi perkembangan ekonomi digital tanah air.

"Nilai transaksi ekonomi digital pada tahun 2021 mencapai USD 70 miliar (Rp 1 Kuadriliun dengan kurs Rp 14.367), Bahkan nilai pertumbuhan ekonomi pada 2025 mendatang, diproyeksikan mencapai USD 146 miliar (Rp  Kuadriliun)," katanya, Selasa (29/3/2022).

Hal ini dipengaruhi oleh pengguna internet di tanah air yang mencapai 80 persen, atau sekira 202 juta orang.

Baca juga: Buka DNES 2022, Presiden Jokowi : Indonesia Harus Mampu Melahirkan Hectocorn

Baca juga: G20 di Solo Ada Acara Apa Saja? Ada Pameran UMKM Asli Solo di Loji Gandrung, Tapi Tak Boleh Makan

Tahun 2021, pertumbuhan percepatan digitalisasi Indonesia bertumbuh sangat signifikan, karena kebutuhan teknologi meningkat karena adanya covid-19.

"Berdasarkan data dari Bank Indonesia transaksi dagang e-commerce sepanjang 2021 menjadi sebesar Rp 400 triliun," ujarnya.

"Sehingga intensitas digital juga mempengaruhi cara masyarakat berkonsumsi secara online," ucapnya.

Namun Arsjad menegaskan masih banyak tantangan bagi Indonesia untuk mengoptimalkan potensi digitalisasi.

Sebab saat ini masih terjadi kesenjangan transformasi digital antara masyarakat perkotaan dan pedesaan, akibat kurang pemerataan pembangunan digitalisasi.

"Segi transformasi bisnis menuju digital, baru terdapat 26 persen dari total usaha mikro kecil menengah yang telah masuk ekosistem digital. Ini suatu PR kita semua," pungkasnya.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved