Berita Terbaru Karanganyar

Muncul Fenomena Barter Tanaman Hias dengan Mobil, Ini Kata Pengamat Ekonomi UNS 

Pengamat ekonomi UNS Mulyanto meminta masyarakat tak terlalu serius menanggapi fenomena barter antara tanaman hias dan mobil.Bahkan terjun menekuninya

TRIBUNSOLO.COM/MARDON WIDIYANTO
Sariyanto (36) warga Dusun Taji Wetan, Desa Karang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Rabu (13/4/2022), tukar Honda Jazz dengan tanamanan hias. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR -  Fenomena barter antara tanaman hias dengan mobil di Kabupaten Karanganyar menjadi perbincangan masyarakat luas.

Pengamat ekonomi asal Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Mulyanto mengatakan fenomena itu sebenarnya hanya menguntungkan bagi pelaku yang berada dalam satu kelompok ekonomi.

Dalam konteks itu, Mulyanto menekankan baik produsen dan konsumen sudah mempunyai anggapan yang saling menguntungkan, walau penuh resiko.

Baca juga: Warga Karanganyar Tukarkan Honda Jazz Rp 250 Jutaan dengan Tanaman Hias, Siapa Sangka Malah Untung

"Barang yang berupa bunga/tanaman sebenarnya susah dihitung komponen biayanya, sehingga cenderung harga yang terbentuk adalah harga perkiraan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti hobi atau dianggap barang yang bisa naik lagi harganya di kemudian hari," ucap Mulyanto, kepada TribunSolo.com, Minggu (17/4/2022).

Mulyanto mengatakan barter tersebut secara ekonomi susah dimengerti bagi khalayak umum.

Namun kegiatan ekonomi tersebut tetap akan dilakukan jika masing-masing pihak mempunyai kegemaran yang sama.

"Hasil akhirnya susah diperkirakan akan untung atau rugi atas transaksi tersebut," ujar Mulyanto.

"Tetapi masing-masing pihak saat ini sudah merasa pada kondisi yang saling untung atau saling merelakan," tambahnya.

Baca juga: Viral, Wanita Solo Beli Tanaman Hias Monstera Variegata Seharga Mobil Rp 225 Juta : Bagi Saya Murah

Dia menjelaskan kegiatan barter yang dilakukan dua belah pihak ini merupakan salah satu cara menaikkan minat pembeli di luar kelompok ekonominya.

Selain itu, cara lain menaikkan minat dan harga tanaman hias tersebut adalah melalui tampil di berbagai media.

"Khususnya online, dengan cara memberikan informasi bahwa tanaman hias itu merupakan barang istimewa dan langka, sehingga nilai jualnya menjadi tinggi," ucap Mulyanto.

Mulyanto sendiri tidak menyarankan masyarakat berkecimpung dalam hobi serupa, apalagi mengikuti hal tersebut (barter, -red).

Hal ini disampaikannya, agar masyarakat tidak terlanjur kecewa dengan fenomena barter tersebut.

"Karena pada saat mau jual, barang tersebut alias tanaman hias tersebut bisa tidak ada harganya lagi," pungkas Mulyanto.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved