Berita Sragen Terbaru

Warga Sekampung di Sragen Jadi Perajin Selongsong Ketupat: Turun Temurun Sejak Puluhan Tahun Lalu

Bagi warga Sragen, pasti sudah tak asing dengan keberadaan penjual selongsong ketupat yang selalu muncul saat lebaran tiba. 

TribunSolo.com/Septiana Ayu Lestari
Beberapa penjual selongsong ketupat yang ternyata merupakan warga satu kampung yakni warga Desa Poleng, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen, Sabtu (7/5/2022). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Bagi warga Sragen, pasti sudah tak asing dengan keberadaan penjual selongsong ketupat yang selalu muncul saat lebaran tiba. 

Di Pasar Bunder Sragen misalnya, belasan penjual selongsong berjejer di sekitar area parkir sepanjang pasar. 

Sejak pasar mulai beraktivitas setelah subuh, mereka sudah sibuk menganyam janur menjadi selongsong ketupat.

Baca juga: Perajin Ketupat Tak Lagi Muram, Kini Bakda Kupat di Sragen Bawa Berkah, Setengah Hari 500 Buah Habis

Baca juga: Jangan Senang Dulu! Besok Operasi Ketupat Berakhir, Tapi Penyekatan Pemudik di Solo Sampai 24 Mei

Untuk mengusir bosan, mereka sesekali bercengkrama satu sama lain, karena jarak lapak yang berdekatan. 

Yang menjual tak hanya orang tua saja, juga ada beberapa penjual yang masih muda. 

Tak hanya ibu-ibu saja yang berjualan, banyak bapak-bapak dengan kelihaian tangannya ikut berjualan dan memproduksi ratusan buah dalam sehari. 

Namun ternyata, penjual selongsong ketupat itu berasal dari satu desa yang sama, yakni Desa Poleng, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen.

Baca juga: 4 Resep Masakan untuk Sajian di Hari Raya Idul Fitri 2020, Ada Ketupat Sayur hingga Sup Cuciwis

Cerita itu disampaikan salah satu warga Poleng, yang juga berjualan di Pasar Bunder Sragen, Wiji Lestari (42) yang ditemui TribunSolo.com, Sabtu (7/5/2022). 

Ia menceritakan memang benar bahwa hampir semua penjual selongsong di Pasar Bunder Sragen adalah warga satu kampung. 

"Yang jualan ini satu kampung dari Desa Poleng, Gesi, saya berjualan dengan suami dan anak saya, sedangkan ibu ini tetangga," katanya kepada TribunSolo.com, Sabtu (7/5/2022). 

Menurut Wiji, kegiatan tersebut sudah dilakukan secara turun temurun, bahkan sebelum ia lahir, puluhan tahun lalu. 

Bahkan, kini sang anak yang masih muda, juga terampil membuat selongsong ketupat.

Baca juga: Jangan Senang Dulu! Besok Operasi Ketupat Berakhir, Tapi Penyekatan Pemudik di Solo Sampai 24 Mei

"Soalnya sudah kebiasaan sejak kecil, jadi sudah seperti turun temurun, hampir satu kampung semua bisa membuat selongsong ketupat," jelasnya. 

Tak seperti desa-desa pada umumnya yang ramai saat lebaran tiba, kondisi Desa Poleng malah nampak sepi karena ditinggal warganya berjualan ke pasar-pasar. 

"Jualannya tidak hanya di Pasar Bunder Sragen, ada yang di Gondang, nyebar dimana-mana," kata Wiji. (*) 

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved