Berita Terbaru Solo

Perkuat Ekonomi dan Bisnis di Ponpes, BI Solo : Setiap Pesantren Harus Ada Hebitren

Bank Indonesia (BI) mendorong santri berwirausaha menjadi sumber ekonomi baru. Diharapkan hal ini mampu mendorong perekonomian secara nasional. 

TribunSolo.com
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Nugroho Joko Prastowo 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tara Wahyu NV 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Bank Indonesia (BI) mendorong santri berwirausaha menjadi sumber ekonomi baru.

Hal tersebut diharapkan mampu mendorong perekonomian secara nasional. 

Kepala BI Kantor Perwakilan Surakarta Nugroho Joko Prastowo mengatakan pondok pesantren sebagai pilar dari penguat dan sebagai sumber ekonomi baru. 

Baca juga: Pernikahan Adik Jokowi dengan Ketua MK di Solo Bakal Dihadiri 800 Tamu Undangan

Baca juga: Pilunya Kurir Paket Ini, 57 Barang yang Akan Diantar Malah Dicuri Orang: Bulan Ini Tak Gajian

"Selama ini kan usahanya biasa-biasa saja, kalau didorong dan meningkat bisa menjadikan pondok pesantren makin mandiri, makin bagus, dan sekitarnya berkembang," katanya, Senin (16/5/2022). 

Menurut Joko, secara nasional jumlah pondok pesantren di Indonesia mencapai puluhan ribu, belum lagi dengan jutaan santri. 

Jika jumlah santri tersebut diberdayakan, dikatakan Joko akan makin baik bagi perekonomian nasional. 

"Makanya Hebitren (Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren) dibentuk di seluruh nusantara, termasuk Solo Raya," paparnya. 

Belum lama ini, Joko mengatakan pihaknya melakukan silaturahmi untuk membahas kedaulatan ekonomi teritori. 

"Kan nggak mungkin bisa memperbaiki ekonomi kalau situasi nggak aman," terangnya. 

Baca juga: Daftar Tarif Tol Solo-Jakarta Senin 16 Mei 2022: Simak Tarifnya, Pastikan Saldo E-toll Mencukupi

Baca juga: Kronologi Kecelakaan Maut di Karawang, Bermula saat Elf Tiba-tiba Oleng, 7 Orang Meninggal Dunia

Dari Hebitren, salah satu yang perlu terus dilakukan adalah saling menguatkan hubungan antar pondok pesantren. 

"Yang punya usaha disatukan, untuk diskusi dan saling menopang," katanya.

"Misalnya pondok pesantren di kawasan Klaten dan Pengging di Kabupaten Boyolali bisa membuat air minum dalam kemasan karena di sana punya umbul," paparnya. 

Selain itu, pengembangan produksi juga perlu diperhatikan secara seksama.

Sehingga nantinya produk yang dihasilkan oleh pondok pesantren tersebut memiliki nilai jual lebih tinggi.

"Di Pondok Pesantren Darussalam Wonosegoro, Boyolali punya lahan kosong, kami bantu untuk nanam cabai," ungkapnya. 

"Pas cabai harga tinggi mereka senang, begitu pas panen raya hanya Rp12.000/kg, rugi dong. Sehingga perlu dipikirkan agar tidak hanya jual cabai tapi gimana jual bubuk cabai kering, saos, itu kan ilmu, termasuk mau dikemas seperti apa," pungkas Joko.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved