Penyebab Harga Emas Anjlok : Terpengaruh Inflasi Amerika Serikat

Emas yang dipandang sebagai aset safe-heaven di saat krisis ekonomi, mencapai level tertinggi $1.877,05 per ounce, pada Kamis (9/6/2022).

Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
Kontan.co.id
ILUSTRASI 

TRIBUNSOLO.COM - Harga emas mengalami penurunan pada Senin (13/6/2022), setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) di bulan Mei dirilis pada Jumat (10/6/2022).

Diketahui harga konsumen naik menjadi 8,6 persen dan mencapai level tertinggi selama empat dekade.

Melansir dari Daily News Egypt, harga spot emas turun 0,9 persen menjadi $1,853,80 per ounce. Harga emas berjangka AS juga turun 0,97 persen menjadi $1,857,40.

Baca juga: Nikita Mirzani Diisukan Putus, John Hopkins Justru Ungkap Rasa Bangga Niki Menang Lawan Dinar Candy

Emas yang dipandang sebagai aset safe-heaven di saat krisis ekonomi, mencapai level tertinggi $1.877,05 per ounce, pada Kamis (9/6/2022).

Indeks harga konsumen AS mencapai 8,6 persen di bulan Mei, yang merupakan rekor tertinggi sejak tahun 1981, mendorong Federal Reserve (the Fed) untuk menaikkan suku bunga secara agresif.

Menurut analis Senior di ActivTrades, Ricardo Evangelista mengatakan banyak pengamat memperkirakan inflasi AS akan mencapai level tertinggi pada bulan April, sehingga membuat pasar menilai kembali tindakan The Fed dalam menghadapi inflasi ini.

Ada kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunga, dan beberapa analis memperkirakan pada Rabu (15/6/2022) besok, The Fed akan mengeluarkan keputusan yang mengejutkan dengan menaikkan suku bunga menjadi 75 basis poin, bukan seperti yang diharapkan sebelumnya yaitu sebesar 50 basis poin.

Baca juga: Rara Pawang Hujan Ungkap Alasannya Hadir di Pemakaman Eril Putra Ridwan Kamil, Sebut Sudah Izin

"Melawan latar belakang seperti itu, emas akan mendapat dukungan dari pelarian ke tempat yang aman, karena investor meninggalkan aset berisiko,"

"Namun, keuntungan tersebut akan dibatasi oleh penguatan USD dan kenaikan imbal hasil treasury," Evangelista menyimpulkan.

Dolar AS terus Naik

Selain itu, selama perdagangan pada Senin (13/6/2022) kemarin, nilai USD menguat terhadap mata uang utama lainnya.

Evangelista yakin jika The Fed menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, maka penguatan nilai dolar AS lebih lanjut akan terjadi, terutama dalam kaitannya dengan mata uang Yen Jepang.

Hal ini karena bank sentral Jepang tetap menjadi bank dengan sikap paling dovish atau menunda kenaikan suku bunga dan melonggarkan kebijakan moneter, di antara negara ekonomi maju. (*)

(Tribunnews.com/Nur Febriana Trinugraheni)

 

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved