Berita Internasional

Sri Lanka Bangkrut Karena Gagal Bayar Utang Luar Negeri, Ekonom: Tak Berdampak ke Indonesia

Pada Senin lalu, sekolah-sekolah ditutup dan kantor-kantor pemerintah pun bekerja sesuai dengan rencana pemerintah untuk mengurangi bahan bakar

Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
www.videoblocks.com
Ilustrasi bendera Sri Lanka 

TRIBUNSOLO.COM - Sri Lanka mengalami krisis ekonomi terburuk sejak merdeka pada 1948.

Negara di Asia Selatan ini  bangkrut akibat gagal bayar utang luar negeri.

Mereka telah menutup sekolah dan menghentikan layanan pemerintah non-esensial untuk menghemat cadangan bahan bakar.

Bahkan, cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Sri Lanka hanya cukup untuk beberapa hari lagi.

Baca juga: Alasan Angga Wijaya Gugat Cerai Dewi Perssik Karena Sudah Tak Lagi Cinta dan Lelah dengan Semuanya?

Dikutip Tribunnews.com dari laman Forbes India, Rabu (22/6/2022), negara berpenduduk 22 juta orang itu kini berada dalam cengkeraman krisis ekonomi terburuknya setelah kehabisan devisa untuk membiayai produk impor yang paling penting termasuk makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.

Pada Senin lalu, sekolah-sekolah ditutup dan kantor-kantor pemerintah pun bekerja sesuai dengan rencana pemerintah untuk mengurangi perjalanan dan menghemat bensin serta solar yang berharga.

Direktur Riset Center of Reform on Ekonomics (Core) Piter Abdullah mengatakan, Indonesia tidak memiliki hubungan ekonomi yang kuat dengan Sri Lanka, baik di sektor keuangan maupun sektor perdagangan.

Baca juga: Facebook, WhatsApp dan Google Terancam Diblokir di Indonesia Lantaran Belum Daftar di Sistem Kominfo

"Krisis kebangkrutan di Sri Lanka tidak akan banyak berdampak ke Indonesia," ujar Piter saat dihubungi Tribun.

Menurutnya, kondisi utang yang dimiliki Indonesia jauh berbeda dengan Sri Lanka, di mana pengelolaan utang Indonesia berjalan cukup baik. Bahkan, kata Piter, langkah pemerintah Indonesia mengelola utangnya secara baik diakui oleh lembaga-lembaga internasional.

"Disiplin fiskal kita sangat terjaga. Indonesia tidak pernah bermasalah memenuhi kewajiban pembayaran cicilan bunga dan pokok utang," katanya.

"Secara jumlah juga utang indonesia relatif aman. Rasio utang indonesia sangat rendah dibandingkan negara-negara setaranya," sambung Piter.

Baca juga: Nikita Mirzani Resmi Ditetapkan Jadi Tersangka Kasus Pencemaran Nama Baik

Ia menyebut, keputusan berutang memang tidak terelakan, apalagi di tengah kenaikan harga-harga yang menambah beban subsidi pemerintah dan jika ingin menurunkan utang maka perlu mengurangi subsidi. Namun, hal itu dapat membuat harga semakin meningkat dan terjadi lonjakan inflasi di dalam negeri.

"Masyarakat tentu tidak menginginkan hal ini. Konsekuensinya beban fiskal akan meningkat yang artinya tidak mungkin mengelakkan utang pemerintah. Yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah terus disiplin menjaga besaran defisit sebagaimana sudah diatur dalam undang-undang," paparnya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved