Pilpres 2024

Beda Sikap Andika Perkasa dan Gatot Nurmantyo saat Diusung Jadi Bakal Capres

Pengamat politik melihat beda sikap antara Andika Perkasa dengan Panglima TNI 2015-2017 Gatot Nurmantyo.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Kolase KOMPAS.com/Nabilla Tashandra dan Youtube TNI AD
Gatot Nurmantyo (kiri) dan Jenderal Andika Perkasa (kanan). Pengamat menilai ada perbedaan terkait kinerja Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. 

TRIBUNSOLO.COM , JAKARTA - Pengamat Pertahanan dan Keamanan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Robi Sugara menyoroti perbedaan terkait kinerja Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa.

Menurut dia, kinerja Andika Perkasa sebagai panglima TNI dinilai terpengaruh kepentingan politik sejak  diumumkan sebagai satu dari tiga bakal calon presiden 2024 yang akan diusung oleh Partai Nasdem.

Andika Perkasa diusulkan jadi Capres 2024 Nasdem bersama dua calon lainnya, yakni Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Robi megatakan, ada dua alasan kinerja Andika sebagai Panglima TNI berpotensi ganda dengan kepentingan politik pribadinya.

Baca juga: Jokowi Berpotensi Dukung Andika Perkasa atau Ganjar Pranowo? Ini Analisa Pengamat

Pertama, pengumuman akhir pengusungan calon presiden secara definitif dari Nasdem kemungkinan akhir tahun ini.

“Andika dengan jabatan yang dipimpinya akan memanfaatkan power tersebut untuk mempengaruhi Nasdem mengusungnya, sebab secara personal Andika seperti membiarkan usulan dari Nasdem tersebut dan ini berpotensi abuse of power,” ungkap pengajar pengkajian stratejik FISIP UIN Syarif Hidatullah Jakarta, Minggu (24/7/2022).

Robi lebih lanjut melihat beda sikap antara Andika dengan Panglima TNI 2015-2017 Gatot Nurmantyo.

Gatot secara tegas saat masih menjabat sebagai panglima mengatakan bahwa dirinya tidak akan mencalonkan atau tidak bersedia dicalonkan sebagai presiden selagi dirinya menjabat sebagai Panglima TNI.

Baca juga: Elektabilitas Lebihi Puan, Ini Respons Andika Perkasa soal Wacana Duet dengan Ganjar di Pilpres 2024

“Jadi pilihan buat Andika ada dua yaitu mengundurkan diri atau dirinya mengatakan bahwa dirinya tidak bersedia dicalonkan,” saran Robi.

Menurut Robi, alasan kedua ketika tidak ada sikap yang jelas oleh Andika, maka pekerjaannya sebagai Panglima TNI berpotensi menjadi tidak professional.

“Sebab apapun yang akan dilakukaannya saat ini pasti syarat ditunggangi dengan pencitraan dirinya untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas,” kata Robi.

Sebab secara aturan, Robi mengatakan bahwa tidak ada yang dilanggar oleh Andika dalam tindakannya ini tetapi secara etika ini menciderai profesionalitas TNI di kemudian hari.

“Sebab ketika nama Andika masuk ke bursa capres, itu sudah pasti ditarik pada kepentingan politik sementara dirinya masih menjabat sebagai panglima TNI dan ini tentu berbeda dengan kasus Anis dan Ganjar yang keduanya menempati jabatan politik,” ujar Robi. (*)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved