Ini Lho Alasan Kenapa Dukun Sering Disebut Orang Pintar, Pakar UNS Solo Beri Penjelasan

Sri Hilmi Pujihartati menyebut penyematan julukan orang pintar pada dukun lantaran dianggap mampu mengatasi segala masalah.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Tribun Jabar - Tribunnews.com
Ilustrasi dukun. Ini alasan kenapa dukun sering disebut sebagai orang pintar. 

TRIBUNSOLO.COM -- Beberapa hari ini, media sosial ramai dengan perseteruan antara Pesulap Merah dengan Gus Samsudin.

Mengutip dari Kompas.com (4/8/2022), perseteruan ini berawal saat Pesulap Merah menyebut pengobatan Gus Samsudin sebagai tipuan atau trik.

Gus Samsudin yang tak terima pun melaporkan Pesulap Merah ke Polda Jawa Timur atas dugaan pencemaran nama baik.

Baca juga: Gus Samsudin Laporkan Pesulap Merah ke Polda Jatim, Tuding Pencemaran Nama Baik dan Ujaran Kebencian

Menariknya, aksi viral Gus Samsudin yang memperlihatkan kesaktiannya turut memancing perwira tinggi Polri, Brigadir Jenderal (Brigjen) Krishna Murti berkomentar.

Lewat unggahan di akun Instagram-nya, Krishna mengomentari pengobatan dengan metode pemindahan penyakit ke kelapa.

"Kenapa dukun selalu disebut *ORANG PINTER?* Ya jawabannya karena yg dateng ke dukun pasti ORANG GUOBLOKSZ..!!!" tulis Krishna dalam unggahannya.

Tampak dalam video itu, Gus Samsudin yang membuka buah kelapa dan memindahkan airnya dalam sebuah wadah.

Baca juga: Sosok Istri Gus Samsudin Kini Disorot, Ternyata Penyanyi Dangdut Cantik Jebolan Acara TV

Ia memperlihatkan wadah, air kelapa berubah menjadi keruh disertai benda-benda seperti keris kecil dan tali.

Nah, mengapa dukun kerap disebut sebagai orang pintar?

Menanggapi pertanyaan itu, Sosiolog Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Sri Hilmi Pujihartati menyebut penyematan julukan "orang pintar" pada dukun lantaran dianggap mampu mengatasi segala masalah.

"Karena dukun biasanya dianggap mampu menangani segala masalah yang dihadapi masyarakat, walaupun sering kali karena kebetulan saja," ujar Hilmi kepada Kompas.com, Minggu (7/8/2022).

Ia menyebut selama dukun masih dapat mengatasi masalah, maka masyarakat akan tetap percaya.

Sebaliknya, jika dukun dianggap gagal dan tak dapat menangani masalah, lambat laun kepercayaan masyarakat akan memudar.

"Karena sesungguhnya masyarakat ingin cepat mengatasi masalah dengan melalui dukun, walaupun sebenarnya dukun sendiri banyak (menggunakan) trik yang menipu," tuturnya.

Sebagai bentuk penghalusan

Pakar antropologi UNS Nurhadi secara terpisah menuturkan, sebutan orang pintar pada dukun merupakan bentuk penghalusan dari istilah asli.

Pasalnya, di masyarakat modern, istilah dukun cenderung memiliki konotasi yang kurang baik.

"Dianggap orang yang pergi ke dukun itu orang yang tidak maju, masih kolot, atau masih percaya takhayul," ujar Nurhadi saat dihubungi Kompas.com, Minggu (7/8/2022).

"Sehingga ketika ditanya mau ke mana kamu, dia jawab mau ke orang pintar," imbuh dia.

Meski demikian, menurutnya, penyebutan pintar juga menimbulkan persoalan karena bersifat kualitatif.

"Ini juga menjadi persoalan karena istilah pintar itu kualiatif dan tidak dapat diukur dengan cara-cara yang obyektif," kata dia.

Hal tersebut serupa dengan praktik perdukunan yang bersifat kualitatif dan tak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Dukun bagian dari masyarakat

Nurhadi mengatakan, perdukunan merupakan bagian dari masyarakat yang sudah ada sejak lama.

Dukun di masa lalu dipandang sebagai sosok yang dapat mengatasi masalah dalam masyarakat.

Contohnya, masyarakat tradisional yang mengalami demam sementara pelayanan medis masih belum memadai.

Oleh karena itu, masyarakat akan mencari bantuan kepada orang yang dianggap memiliki kelebihan dibanding lainnya, yakni dukun.

"Itu terjadi dalam masyarakat yang masih kurang dalam hal yang sifatnya scientific," ungkap Nurhadi.

Keberadaan dukun di masa modern

Nurhadi menyampaikan, saat ini keberadaan dukun tetap eksis karena sebagian masyarakat masih menjadikan mereka sebagai sandaran untuk mengatasi masalah.

"Jadi, manakala manusia dihadapkan dengan masalah mereka lari kepada tiga hal. Pertama, mengatasi masalah dengan kesenian," ujar dia.

Kemudian, manusia akan mengatasi masalah menggunakan nalar dan ilmu pengetahuan, baik milik sendiri maupun orang lain.

Namun saat manusia tak mampu lagi mengatasi masalah dengan cara-cara di atas, maka jalan terakhir adalah melalui dukun.

Sebagai pilihan terakhir, Nurhadi menyebut bahwa penggunaan jasa dukun juga kadang berkaitan dengan kemampuan ekonomi.

"Karena mungkin dia merasa jasa medis terlalu mahal, akhirnya mereka datang kepada dukun," ungkapnya.

Meski demikian, kepercayaan terhadap dukun tak hanya terbatas pada orang dengan tingkat ekonomi maupun pendidikan rendah.

"Banyak yang ke sana karena merasa banyak hal yang tidak dapat mereka jelaskan, akhirnya mereka harus ke situ (dukun)," tutur Nurhadi. (*)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved