Pilpres 2024

Pernyataan Sandiaga Uno Siap Nyapres Bisa Bikin Gerindra Terbelah, Pengamat Ingatkan Kasus Wiranto

Pengamat memberikan tanggapannya soal potensi keterbelahan internal Partai Gerindra lantaran pernyataan Sandiaga Uno.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/Tara Wahyu NV
Menparekraf Sandiaga Salahudin Uno saat memberikan keterangan di Solo. Sandiaga Uno beberapa waktu lalu mengungkapkan kesiapannya maju di Pilpres 2024. 

TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA -- Pengamat politik Agung Baskoro memberikan tanggapan terkait pernyataan Sandiaga Uno yang siap menjadi calon presiden (capres).

Agung Baskoro memberikan tanggapannya soal potensi keterbelahan internal Partai Gerindra lantaran pernyataan Sandiaga Uno tersebut.

Diberitakan sebelumnya, Sandiaga Uno menyatakan siap maju Pilpres 2024, pada Selasa (30/8/2022) lalu.

Baca juga: Sandiaga Uno Nyatakan Siap Ikut Pilpres 2024, Gerindra Singgung Etika dan Tetap Usung Prabowo

Namun terkait pasangan, Sandiaga Uno menyerahkannya ke pilihan partai.

“Dampaknya lebih ke internal partai soal hubungan antar kader dan massa partai yang mungkin terbelah,” kata Agung Baskoro kepada Tribunnews.com, Jumat (2/9/2022).

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis ini mengatakan potensi keterbelahan itu mengingat pada Pilpres 2019 maupun Pilgub 2017, Sandiaga memberikan dampak positif ke Partai Gerindra.

Tetapi, Agung menyebut potensi keterbelahan ini pun masih perlu dilihat lebih jauh.

Hal itu sebagaimana melihat pergerakan politik dari partai lain seperti Ganjar Pranowo dari PDIP dengan Puan Maharani.

Baca juga: IWTCF 2022 di Solo, Menparekraf Sandiaga : Harusnya Indonesia 5 Besar Pasar Tujuan Wisata Kebugaran

“Keterbelahan gerindra saat Sandi jadi maju perlu diukur, sebagaimana ketika Puan dan Ganjar maju bersamaan lewat partai yang berbeda,” ujarnya.

Agung kemudian mengibaratkan peristiwa seperti ini biasa terjadi di dunia politik, sebagaimana ketika Konvensi Partai Golkar pada 2004 silam yang dimenangkan oleh Wiranto.

Wiranto saat itu menjadi calon presiden setelah mengalahkan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Akbar Tandjung dalam pemilihan putaran kedua yang berlangsung di Jakarta Convention Centre, Jakarta Pusat, Rabu (21/4/2004) dini hari.

 Saat itu, Wiranto tercatat meraih 315 suara, sedangkan Akbar Tandjung hanya 227 suara.

Baca juga: PDIP Tepis Kedekatan Jokowi dan Menteri sebagai Dukungan di Pilpres 2024 : Jangan Over Ekspektasi

Kemenangan ini sekaligus mengukuhkan Wiranto sebagai capres dari Partai Golkar dalam Pemilihan Presiden kala itu.

“Namun Jusuf Kalla yang juga kader Golkar maju bersama SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) berhadapan dengan Wiranto-Salahuddin Wahid,” kata Agung.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved