Info Pendidikan

Konsep Sekolah Ramah Anak di Al Firdaus World Class Islamic School, Tak Beda-bedakan Kondisi Siswa

Kondisi siswa yang bersekolah di Al Firdaus World Class Islamic School tak dibeda-bedakan. Mereka mengusung konsep pendidikan humanis dan ramah anak

TribunSolo.com/Tara Wahyu NV
Di Early Years-Primary Years Programme atau TK Al- Firdaus Solo, digabungnya kelas inklusi dengan kelas reguler menjadi salah satu nilai keunggulan sekolah ini. 

Laporan Wartawan Tribunsolo.com, Eka Fitriani 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Sekolah internasional, Al Firdaus World Class Islamic School merupakan sekolah inklusi yang mengusung konsep pendidikan humanis.

Pendidikan humanis yang dimaksud tersebut yakni pendidikan yang memanusiakan anak atau siswa.

Visi misi sebagai sekolah inklusi bagi penyandang disabilitas sudah diemban sejak tahun 2007.

“Karena itu pendekatan yang digunakan Al Firdaus yakni pendekatan inklusi, dulu pemerintah bahkan belum tercetus mengenai sekolah inklusi tersebut,” kata Sekretaris Yayasan lembaga Pendidikan Al Firdaus, Hasto Daryanto, kepada TribunSolo.com, Jumat (16/9/2022).

“Sejak awal didirikan sekolah ini, kami memandang perbedaan dan keberagaman itu adalah hal yang sangat biasa,” katanya.

Baca juga: Ciri Sekolah Modern & Global Era Kini: Melek Teknologi Seperti Al Firdaus World Class Islamic School

Baca juga: Al Firdaus World Class Islamic School Sandang Predikat Sekolah Internasional Terbaik di Solo Raya

Hasto membeberkan jika sekolah sudah mengusung inkkusi, mindset pendidikan yang diajarkan merupakan pembelajaran yang humanistik bukan birokratik.

Anak berkebutuhan khusus dilihat sebagai ciptaan Tuhan dan tetap harus harus bergaul dengan siswa lain.

“Di pembelajaran tersebut, siswa penyandang disabilitas bisa belajar bersama dengan anak-anak reguler lainnya di kelas yang sama,” katanya.

Menerima siswa berkebutuhan khusus merupakan tantangan tantangan bagaimana guru dapat mengatasi anak tersebut.

Oleh karena hal tersebut, Al Firdaus World Class Islamic School mengadakan kelas pendampingan.

Suasana belajar di TK Al Firdaus Solo. Sekolah tersebut sudah menerapkan sekolah penggerak.
Suasana belajar di TK Al Firdaus Solo. Sekolah tersebut sudah menerapkan sekolah penggerak. (Dokumen Al Firdaus)

“Karena anak yang lahir harus diperlakukan secara manusiawi, tidak boleh dimarginalkan, atau di eksklusifkan dan tidak boleh disendirikan,” katanya.

“Untuk itu, maereka harus belajar dengan siswa-siswa yang lain. Guru dan orang tua harus mau bersusah-susah untuk itu,” katanya.

Sejak Al Firdaus berdiri, memasukkan siswa disabilitas dengan siswa lainnya bukan pekara mudah.

Baca juga: Masuk MYP Al Firdaus World Class Islamic School, Guru Lakukan Asesmen untuk Ketahui Kemampuan Siswa 

Baca juga: TK Al Firdaus Solo Sudah Menerapkan Sekolah Penggerak: Siswa Diajak Berekspresi

Namun, sejak awal pendaftaran siswa, Hasto mengatakan guru akan melakukan identifikasi kepada siswa.

Guru akan melihat bagaimana karakter calon siswa.

Siswa ini akan mendapatkan sistem pendidikan yang sama, sehingga siswa penyandang disabilitas inipun juga merasa nyaman belajar disini dan berinteraksi dengan teman-teman yang lain.

Sedangkan, jika berada di sekolah lain, siswa disabilitas terkadang harus melalui seleksi yang ketat hanya untuk dapat belajar di kelas.

Apalagi kebanyakan siswa tersebut biasanya hanya diterima di Sekolah Luar Biasa (SLB) atau di sekolah negeri dengan kuota inklusi.

“Jika anak berkebutuhan khusus bersekolah di tempat khusus, mereka akan merasa asing saat pulang kerumah atau bersosialisasi dengan masyarakat,” katanya.

“Kami ingin, mereka siswa berkebutuhan khusus ini bisa benar-benar bisa nyaman dengan lingkungannya,” katanya.

Hasto juga mengatakan, bagi siswa lain, berteman dengan siswa berkebutuhan khusus tersebut akan membuatnya dapat berempati.

“Jadi mereka bisa melihat perbedaan tersebut sebagai cara untuk lebih baik dalam berkomunikasi,” katanta.

Dirinya juga membeberkan bahwa dengan mengajar siswa berkebutuhan khusus itu tidak menghalangi untuk bisa menjadi sekolah berkelas dunia.

Ciri Sekolah Modern & Global Era Kini : Melek Teknologi Seperti Al Firdaus World Class Islamic School

Banyak lembaga pendidikan seperti sekolah kini kerap memilih menggunakan tittle modern, international maupun global.

Namun, sebenarnya apa arti dari ketiga makna tersebut?

Sosiolog UNS yang juga seorang Lektor Kepala Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si. membeberkan bahwa sekolah modern atau global sendiri merupakan konten.

“Seperti Al Firdaus ini kan international school, International nya itu ya modern dan global,” katanya, kepada TribunSolo.com, Kamis (15/9/2022).

“Untuk modern itu lebih berkaitan sebenarnya pada kultur moderinisasi, karena sekolah ini kan sebenarnya sebuah kerja kultural sekolahan itu yang merubah mindset, perilaku,” katanya.

Baca juga: Masuk MYP Al Firdaus World Class Islamic School, Guru Lakukan Asesmen untuk Ketahui Kemampuan Siswa 

Modern yang dimaksud yakni apakah orang menjadi rasional dengan bekerja sesuai standar yang bisa diakui oleh dunia atau akademik.

Sehingga kata modern yang dimaksud dalam dunia pendidikan tersebut memiliki standar yang baku.

Al Firdaus World Class Islamic School di Jalan Yosodipuro, Kota Solo.
Al Firdaus World Class Islamic School di Jalan Yosodipuro, Kota Solo. (TribunSolo.com/Eka Fitriani)

Mulai kurikulum, cara mengajarnya, cara mengevaluasinya, hingga cara menganalisisnya.

“Misal di sekolah Al Firdaus ini jika anak disini tantrum di kelas dia harus dibawa untuk ditenangkan, setelah itu baru dikembalikan kepada teman yang lain,” katanya.

“Standar-standar seperti itu bisa dipertanggungjawabkan,” tambahnya.

Drajat memberikan ciri lainnya, sekolah modern yakni pro teknologi dengan melek teknologi.

Selain itu, sekolah modern cenderung terbuka, dia tidak sekretarian primordial.

Dimana hal itu artinya tidak melakukan diskriminasi atau kebencian akibat perbedaan suatu kelompok, seperti denominasi agama atau fraksi politik.

Primordialisme sendiri merupakan sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat istiadat.

“Di Al Firdaus World Class Islamic School contohnya dia Islam tapi international, dia tidak mengikuti aturan yang ketat,” katanya.

“Islam menjadi value yang dimiliki tapi sekolahnya tetap terbuka, siapa saja yang mau belajar di sini boleh,” ungkapnya.

Baca juga: TK Al Firdaus Solo Sudah Menerapkan Sekolah Penggerak: Siswa Diajak Berekspresi

Drajat mengatakan bahwa sikap terbuka merupakan hal penting dalam proses pembelajaran.

Apalagi di Al Firdaus, sekolah menggunakan program unggulan yang dicanangkan International Baccalaureate (IB) School.

Di Early Years-Primary Years Programme atau TK Al- Firdaus Solo, digabungnya kelas inklusi dengan kelas reguler menjadi salah satu nilai keunggulan sekolah ini.
Di Early Years-Primary Years Programme atau TK Al- Firdaus Solo, digabungnya kelas inklusi dengan kelas reguler menjadi salah satu nilai keunggulan sekolah ini. (TribunSolo.com/Tara Wahyu NV)

“Uniknya sekolah Islam digabungkan dengan IB. Sehingga pada perkembangannya, sekolah ini tidak persis sama dengan sekolah IB diluar negeri seperti Amerika atau Inggris, kalau di sini ada kolaborasinya” katanya.

“Kalau sekolah Global itu lebih mencangkup tentang bagaimana interaksi di sekolah tersebut,” katanya.

Sekolah Global memiliki dorongan untuk kolaboratif untuk bekerja sama dengan baik dengan siswa dalam maupun luar negeri.

Bisa juga siswa belajar di dalam dan luar negeri.

“Kalau sekolah Global dia tetap mengikuti sekolah khusus seperti pelatihan dan kursus yang tetap dilakukan dengan teman-teman siswa diluar negeri,” katanya.

“Namun, mendatangkan atau melakukan pertukaran pelajar bagi siswa jenjang SD cukup sulit ya,” katanya.

Sedangkan di Al Firdaus sendiri, beberapa guru sudah melakukan gaya kerjasama dengan pengajar dari luar negeri.

“Sekolah Global itu sebenarnya ada 2 pengertiannya, yang pertama bekerja sama atau kolaborasi dengan dunia, yang kedua adalah mengikuti atau mendukung nilai-nilai universal,” katanya.

Baca juga: Program Al Firdaus World Class Islamic School: Mulai PYP hingga MYP, Ada Seleksi Bakat dan Minat

Nilai yang dimaksud misalnya tentang pro terhadap lingkungan, dengan cara menjaga lingkungan.

“Al Firdaus sudah mengikuti hal tersebut, sehingga siswa memiliki value universal yang semakin lama bergulir semakin diikuti oleh semua negara,” katanya.

“Karena sekolah ini sudah global, maka siswa juga diajarkan untuk mencintai alam dengan cara misalnya menanam pohon, melakukan diskusi hingga outbound ke alam,” katanya.

Tak hanya peduli dengan lingkungan, siswa juga diharapkan mampu memahami karakter global lainnya.

Mulai dari demokrasi, moderasi dalam antar agama, hak asasi manusia dan saling berbagi satu dengan yang lain.

Hal tersebut juga sejalan dengan sistem IB yang bertujuan agar siswa memiliki 11 karakter yakni Inquirers, Knowledgeable, Thinkers, Communicators, Principled, Open Minded, Caring, Risk Takers, Balanced, Reflektive dan tentunya Minnallah-Ma’iyyatullah-Illallah (MMI).

“Visi misinya siswa yang belajar disini bisa menjadi Global Muslim Citizens,” katanya,

“Lewat pembelajaran tersebut kan anak jadi akhirnya punya skill bersosialisasi dan tumbuh berempati serta rasa ingin tahu yang besar,” katanya.

(*)

 

 

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved