Viral

Viral Petani Rusak Tanaman Sendiri karena Harga Sayur Anjlok, dari Rp3.000 per Kg Jadi Rp200 per Kg

Sebuah video yang memperlihatkan beberapa petani sayuran merusak tanaman sayuran yang sudah ditanamnya, viral di media sosial.

(KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah)
Viral sejumlah petani sayuran di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, merusak hasil panennya sendiri, diduga aksi tersebut lantaran bentuk kekecewaan anjloknya beberapa jenis sayuran yang mereka tanam di pasaran. 

TRIBUNSOLO.COM - Sebuah video yang memperlihatkan beberapa petani sayuran merusak tanaman sayuran yang sudah ditanamnya, viral di media sosial.

Dalam video, tampak seorang petani membabat sayuran di sebuah ladang menggunakan sebilah parang.

Baca juga: Viral Video BLT BBM Dipotong Rp 20.000 dengan Alasan untuk Pengurus, Bupati Minta Dikembalikan

Tidak hanya itu, para petani juga menendang sayuran di ladangnya.

Usut punya usut kejadian ini terjadi di Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Dilansir dari Kompas.com, Agung Rizky Yudha, pengunggah video tersebut, membenarkan para petani tersebut merasa kecewa dan frustasi lantaran sayuran yang mereka tanam berbulan-bulan tersebut mengalami penurunan harga yang signifikan.

Jika harus menjual sayuran yang ditanamnya, petani dipastikan akan merugi karena harga yang merosot.

Padahal, petani sudah menghabiskan modal besar seperti untuk kebutuhan pupuk dan biaya lainnya.

Kondisi seperti ini, lanjut Agung sudah berlangsung sejak sebulan terakhir.

Bahkan, ratusan hektar pertanian holtikultura dan stroberi milik masyarakat Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung yang siap panen dibiarkan membusuk atau bahkan dirusak sendiri oleh para petaninya.

"Kalau luas lahan pertanian bisa lebih dari 100 hektar yang ditanami holtikultura dan stroberi. Bisa dipastikan semuanya mengalami kerugian. Saya saja mengolah lahan 3 hektar. Rugi sekitar Rp 100 juta, dan kalau ditambah sama kerugian saya sebelumnya itu ada sekitar Rp 500 juta," tuturnya.

Ia berharap situasi ini segera ditangani oleh pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Bandung.

Pasalnya, jika terus dibiarkan, ia khawatir para petani berhenti beraktivitas, otomatis stok sayuran di Jawa Barat bisa menipis.

Baca juga: Viral Makanan Napi Lapas Salemba Cuma Nasi Putih, Beli Lauk Bayar Rp30 Ribu, Kalapas Beri Penjelasan

Harga sayur anjlok

Jenis-jenis sayuran yang mengalami anjlok harga di Kecamatan Rancabali, yakni pecay, kubis, dan bawang daun.

Ia mengungkapkan harga Pecay saat ini, turun drastis, biasanya harga normal berkisar Rp 2.500-Rp 3.000 per kilogram, saat ini hanya dibeli seharga Rp 200 per kilogram oleh bandar.

"Itu pun harga pinggir jalan, artinya petani dibebankan dengan biaya upah kuli panggul dan kuli panen," kata dia.

Meski tak semua petani Pecay merusak hasil tanamannya, banyak juga para petani yang membiarkan tanamannya di kebun.

Mereka mempersilakan warga atau pedagang untuk mengambilnya secara cuma-cuma.

"Nah kalau harga Rp 200 mah lebih baik dibiarkan saja di kebun, ada yang bilang sayang lebih baik dikasihkan kepada masyarakat, yah silakan saja ambil kalau mau mah," ujarnya.

Khusus untuk harga bawang daun, kata dia, sebetulnya sudah sedikit membaik. Saat ini harga mencapai Rp 2.000 per kilogram.

Sebelumnya, harga bawang daun hanya mencapai Rp 500 per kilogram. Harga tersebut, sama dengan upah pikul dari kebun ke pinggir jalan.

Saat itu, lanjut dia, para petani bawang daun pun mengalami kekecewaan akibat anjloknya harga.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved