Breaking News:

Viral

Heboh Es Teh Indonesia Somasi Pelanggan karena Minuman Kemanisan, BPOM Singgung Informasi Kandungan

Media sosial tengah ramai tentang Minuman Es Teh Indonesia melayangkan somasi kepada pelanggan yang mengkritik minuman kekinian itu terlalu manis.

KOMPAS.COM
Ilustrasi produk Es Teh Indonesia. Inilah pemilik bisnis Es Teh Indonesia yang belakangan viral. 

TRIBUNSOLO.COM - Media sosial tengah ramai tentang Minuman Es Teh Indonesia melayangkan somasi kepada pelanggan yang mengkritik minuman kekinian itu terlalu manis.

Ada seorang pelanggan mengkritik salah satu produk Es Teh Indonesia, Chizu Red Velvet.

Baca juga: Duduk Perkara Es Teh Indonesia Viral karena Layangkan Somasi, Nagita Slavina Ikut Terseret

Melalui akun Twitter @Gandhoyy, ia mencuit sebuah kritikan.

Kritikan tersebut berisikan bahwa Chizu Red Velvet dirasa terlalu manis yang diibaratkan produk Chizu Red Velvet (Minuman) seperti gula seberat 3 kg.

Ia mengatakan, minuman tersebut memiliki rasa hanya seperti gula yang dicampur dengan bahan kue.

Pihak Esteh Indonesia pun tak tinggal diam.

Melalui akun Twitternya, @esteh_indonesia, perusahaan waralaba minuman aneka rasa ini juga membalas cuitan @Gandhoyy.

"Sehubungan dengan tweet tersebut, datanya sudah diterima oleh tim legal kami." tulis @esteh_indonesia.

Kasus yang berkaitan dengan perusahaan yang berpusat di Bogor ini menjadi semakin ramai setelah viral di media sosial twitter.

Banyak netizen pula yang meminta Badan POM atau BPOM RI untuk memberikan label kandungan gula pada produk minuman tersebut.

Baca juga: Siapa Pemilik Es Teh Indonesia? Bukan Nagita Slavina, Sosoknya Punya Banyak Bisnis Kuliner

BPOM Buka Suara

Merespons hal tersebut BPOM RI buka suara.

BPOM mengatakan, informasi kandungan gula, garam, dan lemak atau GGL pada produk industri tersebut tidak menjadi lingkup pengawasan BPOM RI.

Pasalnya, produk Es Teh Indonesia termasuk dalam kategori Pangan Siap Saji.

"Produk Es Teh Indonesia termasuk dalam kategori pangan siap saji/PSS. Pengawasan terhadap pemberian informasi kandungan gula, garam, lemak (GGL) serta pesan kesehatan PSS dilakukan oleh Dinkes Provinsi/ Dinkes Kab/Kota," tulis keterangan yang tertulis dari akun twitter BPOM RI, Senin (26/9/2022).

Adapun dalam Peraturan BPOM Nomor 26 Tahun 2021, mengatur pencantuman informasi Nilai Gizi untuk produk pangan olahan (yang memiliki izin edar dan masa simpan lebih dari 7 hari).

(TribunNews)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved