Berita Solo Terbaru

Pidato Berbahasa Jawa Jadi Momok, Guru SMPN 13 Surakarta: Siswa Harus Mampu Menghafal Huruf Jawa

Lomba Bahasa Jawa akan diikuti SMPN 13 Surakarta. Dalam hal ini siswa terkendala untuk berpidato dalam bahasa Jawa halus atau kromo.

Penulis: Eka Fitriani | Editor: Ryantono Puji Santoso
TribunSolo.com/Eka Fitriani
Siswa SMPN 13 Surakarta saat mengikuti persiapan Festival Tunas Bahasa Ibu. Mereka bersiap mengikuti beberapa perlombaan seperti nembang macapat, hingga menulis geguritan 

Laporan wartawan Tribunsolo.com, Eka Fitriani 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Bagi Sebagian siswa, pelajaran Bahasa Jawa menjadi mata pelajaran yang gampang-gampang susah, apalagi jika harus membaca teks hingga berpidato dalam Bahasa Jawa.

Pembelajaran biasanya meliputi Bahasa Jawa ragam ngoko dan Bahasa Jawa ragam krama.

Sedangkan dalam Bahasa sehari-hari masyarakat Jawa terbiasa menggunakan Bahasa Jawa ngoko untuk berbicara dengan teman sebaya.

“Pelajaran Bahasa jawa itu kalau sudah dikelas atau untuk lomba biasanya memakai Bahasa Jawa alus atau kromo,” kata guru Bahasa jawa SMPN 13 Surakarta, Rosalia Nuning, Selasa (27/9/2022) siang.

“Namun, siswa harus paham dulu perbedaannya, karena saat ini kan Bahasa Jawa sudah bercampur dengan keseharian yang menggunakan Bahasa Indonesia hingga Inggris,” katanya.

Untuk mendidik siswa, Rosalia biasanya meminta siswa untuk menghafal huruf Jawa terlebih dahulu.

Baca juga: Lestarikan Budaya, SMPN 13 Surakarta Dorong Siswa Ikuti Lomba Pengembangan Bahasa Jawa

“Itu kan ada 20 huruf dan memang harus hafal,” katanya.

Lewat pembelajaran Bahasa Jawa tersebut, kini dirinya tak merasa kesulitan jika sewaktu-waktu siswa harus ikut berkompetisi dalam pidato maupun membaca aksara Jawa.

Namun, rupanya pidato Bahasa Jawa tetap menjadi yang cukup sulit untuk dipelajari.

“Tahun ini ada kompetisi untuk lomba pidato Bahasa Jawa, dari SMPN 13 Surakarta hanya mendapatkan 1 siswa dari kelas 9,” katanya.

“Sedangkan untuk lomba lainnya seperti geguritan tersebut ada siswa dari kelas 9 dan 7. Kendala di pidato ya karena berbicara dengan Bahasa Jawa alus, itu siswa banyak yang kesulitan,” ujarnya.

Siswa yang tak terbiasa dengan Bahasa Jawa halus tersebut harus berlatih mulai dari menghafal huruf jawa hingga membuat teks pidato.

“Kalau teks dari saya dan siswa, kami sepakati akan seperti apa nanti pidatonya namun saat kompetisi ya mereka dilarang membaca teks,” katanya.

“Sedangkan di pembelajaran di kelas, siswa kan masih bisa melihat buku untuk mengerjakan soal, nah itu kendalanya,” ujarnya.

Ada 4 jenis lomba yang kini tengah diikuti SMPN 13 Surakarta yakni tembang macapat, baca aksara jawa, pidato Bahasa Jawa hingga geguritan.

“Di lomba ini, saya tidak mentargetkan menang, yang penting ikut berproses dan berpengaruh, paling tidak, siswa jadi mengenal budaya Jawa,” katanya.

Kompetisi Bernama Festival Tunas Bahasa Ibu tersebut akan diikuti oleh seluruh sekolah di Kota Solo.

Festival tersebut dilaksanakan secara berjenjang dari sekolah di tingkat Kecamatan/Kabupaten/Kota hingga Provinsi. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved