Berita Sragen Terbaru

Sisa Kejayaan Pahlawan Revolusi Korban G30S/PKI Brigjen Katamso : Sepeda Onthel Hitam Bergaya Klasik

Tak banyak memorabilia yang masih ada hingga saat ini dari Brigjen Katamso, pahlawan revolusi asal Sragen. Yang tersisa hanyalah sepeda onthel

Tribunsolo.com/Kabid Pembangunan Kebudayaan Disdikbud Sragen Johny Adhi Aryawan
Sepeda onthel tua berwarna hitam yang dulunya milik Brigjen Katamso. Brigjen Katamso adalah seorang Pahlawan Revolusi yang lahir di Kabupaten Sragen dan merupakan korban peristiwa G30S/PKI di Yogyakarta. Kini, sepeda onthel tersebut telah berpindah tangan dan dimiliki seorang dokter. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Tak banyak memorabilia yang masih bertahan hingga kini dari pahlawan revolusi yang jadi korban keganasan Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).

Salah satu yang masih tersisa ternyata adalah milik Brigadir Jenderal TNI Katamso Darmokusumo yang merupakan pahlawan revolusi asal Kabupaten Sragen.

Brigjen Katamso merupakan korban dari peristiwa kelam G30S/PKI di Yogyakarta.

Saat itu, Brigjen Katamso menjabat sebagai Komandan Korem 072/Pamungkas Yogyakarta.

Baca juga: Sebelum G30S/PKI, Ternyata Kekejaman PKI Dirasakan Warga di Wonogiri : Setiap Hari Ngumpet di Ladang

Baca juga: Monumen 48 Hargorejo, Saksi Bisu Bukti Kekejaman PKI di Wonogiri : Puluhan Orang Jadi Korban

Dikutip dari laman arpus.sragenkab.go.id, Brigjen Katamso berasal dari Kelurahan Puro, RT 02, RW 01, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.

Dia diketahui lahir di Sragen pada 5 Februari 1953.

Ayahnya bernama Ki Sasrosudarmo.

Brigjen Katamso menikahi RR. Sriwulan Murni dan memiliki 7 anak.

Diceritakan jika pada 1 Oktober 1965, terjadi upaya kudeta oleh PKI dengan penculikan jenderal di Jakarta dan di Yogyakarta.

Kemudian, pada sore harinya, Brigjen Katamso diculik oleh anak buahnya di Batalyon L yang berkomplot dengan PKI.

Brigjen Katamso diculik bersama Kepala Staf Korem Letnan Kolonel Sugiono dan kemudian dibawa ke daerah Kentungan, pada 2 Oktober 1965 dini hari.

Keduanya dipukul dengan menggunakan kunci mortar dan tubuhnya dimasukkan ke dalam sebuah lubang yang disiapkan.

Atas kejadian tersebut keduanya meninggal dunia, dan jasadnya baru ditemukan pada 21 Oktober 1965 dalam keadaan rusak.

Baca juga: Kisah Gudang Dinamit Jepang di Wonogiri: Saksi Bisu Kejamnya PKI, Warga Sering Dengar Suara Tangisan

Baca juga: Inilah Rumah Persembunyian Tokoh PKI DN Aidit di Solo : Dulu Bentuknya Joglo, Kini Berlantai Dua

Halaman
1234
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved