BREAKING NEWS

BREAKING NEWS: Seorang Ibu Nekat Bunuh Anak Sendiri di Sragen, Habisi Pakai Batu Bata & Cangkul

Tak disangka, seorang ibu nekat menghabisi nyawa anak kandungnya sendiri di Sragen.

TribunManado
Ilustrasi - Korban pembunuhan 

"Bocahe sing endi (orangnya yang mana), pingin weruh bocahe (ingin lihat orangnya), kok tega-tegane," ujar seorang ibu paruh baya. 

Seorang nenek yang melihat tersangka dibawa keluar terus mengucapkan kalimat istighfar "Astaghfirullah hal adzim" berkali-kali.

Kapolres Sragen, AKBP Piter Yanottama melalui Kasat Reskrim Polres Sragen AKP Lanang Teguh Pambudi mengatakan total ada 32 adegan yang diperagakan ulang. 

"Total ada 32 reka adegan, kita rekonstruksi dari yang bersangkutan ini istirahat, kejadian kemudian pasca kejadian," ungkapnya saat ditemui wartawan, Jumat (15/7/2022). 

Pihaknya masih mendalami pemeriksaan lebih lanjut apakah terdapat fakta baru dari kasus yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia tersebut. 

Di dalam reka adegan diterjunkan sebanyak 6 personel dan juga personel untuk mengamankan selama proses reka ulang berlangsung.

Kronologi Anak Bunuh Ibu Kandungnya Sendiri

Aksi keji dilakukan DP alias M (32) warga Kampung Widoro, Kelurahan Sragen Tengah, Kecamatan/Kabupaten Sragen.

DP tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri, yakni Setyorini (53) pada Selasa (28/6/2022) lalu. 

Kapolres Sragen, AKBP Piter Yanottama mengatakan kasus tersebut terungkap setelah muncul kecurigaan dan kejanggalan yang dirasakan para tetangga terhadap kematian Setyorini.

Baca juga: Kejinya Anak di Sragen Bunuh Ibu Kandung, Setelah Dihabisi Dibuat Seolah Terjatuh di Kamar Mandi

Setyorini diketahui dimakamkan pada Selasa (28/6/2022) siang hari setelah ditemukan meninggal dunia dalam posisi sujud dengan kepala masuk ke dalam ember pada pagi harinya. 

Warga dan keluarga yang curiga kemudian melaporkan kejanggalan tersebut kepada Polres Sragen kemudian dilakukan pembongkaran makam dan dilaksanakan autopsi pada Minggu (3/7/2022). 

Tetangga sekitar juga kerap mendengar adanya cek-cok mulut dari rumah korban. 

Menurut AKBP Piter, berdasarkan hasil autopsi ditemukan pendarahan di lapisan otak Setyorini. 

"Dari hasil secara umum, Biddokkes Polda Jawa Tengah mengatakan korban atas nama Setyorini meninggal akibat adanya luka lebam, memar, dibagian belakang kepala bagian bawah akibat benda tumpul," ujarnya kepada wartawan, Rabu (6/7/2022). 

"Kemudian ada juga sedikit luka di pelipis kanan kemudian ada juga luka di dada kanan juga," tambahnya. 

Dari hasil autopsi itulah, Polres Sragen langsung melakukan penyelidikan dan pengumpulan barang bukti karena adanya indikasi tindak pidana pembunuhan.

Polres Sragen mengumpulkan barang bukti dan memeriksa 6 orang saksi yang kebanyakan adalah tetangga korban. 

Pihaknya juga melakukan olah TKP dan menemukan dia alat bukti yang cukup, dan akhirnya bisa menetapkan DP alias M adalah pelaku dari pembunuhan tersebut.

DP diketahui merupakan anak tunggal dan kandung dari Setyorini yang sehari-hari tinggal bersama korban. 

"Pelaku sudah kita tangkap dan tahan, yang bersangkutan menjelaskan secara gamblang detik-detik apa yang sudah dilakukan terhadap ibu kandungnya sampai meninggal dunia," terangnya. 

Diakui DP ia telah melakukan kekerasan fisik terhadap Setyorini dengan cara memukul dengan tangan kiri bagian kepala, tangan dan dada hingga terjatuh.

"Ketika terjatuh, pelaku membenturkan kepala korban ke lantai sebanyak tiga kali dan kemudian korban pingsan, dan menurut pelaku tangan korban masih bergerak," kata AKBP Piter. 

"Selanjutnya untuk mengaburkan aksinya, yang bersangkutan membuat skenario biar Seolah-olah terjatuh di kamar mandi," tambahnya. 

Ya, kemudian oelaku memasukkan kepala korban ke dalam ember kemudian diisi air dengan gayung berwarna kuning hingga meninggal dunia.

Jengkel Disuruh Cari Kerja dan Dibandingkan Ponakan

DP (33) warga Kampung Widoro, Kelurahan Sragen Wetan, Kecamatan/Kabupaten Sragen resmi ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan terhadap ibu kandungnya sendiri.

Setyorini (53) diketahui meninggal dunia dalam keadaan sujud dengan kepala masuk ke dalam ember di kamar mandi pada Selasa (28/6/2022). 

Terungkap motif DP melakukan aksi keji tersebut karena merasa jengkel selalu dinasehati sang ibu untuk mencari kerja.

Baca juga: Kejinya Anak di Sragen Bunuh Ibu Kandung, Setelah Dihabisi Dibuat Seolah Terjatuh di Kamar Mandi

Diketahui DP yang tinggal berdua dengan sang ibu hidup dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan. 

Terkadang tetangga iba dan memberikan makanan kepada keduanya. 

Kapolres Sragen, AKBP Piter Yanottama membenarkan hal tersebut. 

"Pelaku dan korban diketahui sehari-hari memang tinggal bersama, sebagai ibu dan anak tunggal, karena kesulitan ekonomi, korban sebagai seorang ibu kerap memberikan nasehat agar anaknya mencari kerja yang layak," ungkapnya Rabu (6/7/2022). 

"Pelaku juga disarankan berangkat ke Jakarta menyusul kakak keponakannya, bahasanya apa tidak ingin memperbaiki rumah supaya kita bisa hidup dengan layak," tambahnya. 

Menurut AKBP Piter, DP melakukan tindakan tersebut secara spontan dan dalam keadaan sehat tidak mengalami gangguan kejiwaan. 

Sebelum melaksanakan aksinya itu, DP sempat berkumpul dengan teman-temannya dan minum-minuman keras hingga mabuk pada Senin (27/6/2022) malam. 

Kemudian pada Selasa (28/6/2022) sekitar pukul 00.30 WIB, DP kembali ke rumah kemudian bertemu dengan sang ibu. 

Sang ibu kembali menasehati DP, namun DP mengatakan untuk dibahas besok dan ia kemudian tidur. 

Keesokan harinya, sekitar pukul 05.00 WIB Setyorini kembali menasehati DP untuk mencari kerja. 

"Besok paginya kembali dibahas hal tersebut sehingga menyebabkan yang bersangkutan menjadi emosi menjadi meledak, spontanitas DP melakukan hal tersebut," jelasnya. 

"DP melakukan tindakan fisik memukul bagian tubuh dari korban kemudian jatuh ke lantai, kepala dibenturkan tiga kali ke lantai hingga ibunya tak berdaya, kemudian kepala ibunya dimasukkan ke ember berisi air, sehingga atas dasar itu korban meninggal dunia," terangnya. 

Dengan rasa tak berdosa, pelaku melanjutkan tidurnya setelah melakukan aksi keji itu. 

Kemudian ada tetangga yang melihat ada separuh badan seperti terjatuh dan ketika dipanggil tidak menjawab. 

Dari situlah baru diketahui Setyorini telah meninggal dunia.

Selain itu, DP juga merasa jengkel karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya. 

Diketahui, Setyorini juga mengasuh kedua keponakannya dan sempat tinggal bersama dan sudah dianggap sebagai anak sendiri.

Kedua anak asuh Setyorini sudah bekerja di Kabupaten Karanganyar dan Jakarta yang terkadang juga membantu perekonomian Setyorini di Sragen

"Ada pengakuan pelaku jengkel karena dibanding-bandingkan dengan kakak keponakan, berangkat sana ke temuin kakak Jakarta," ujarnya. 

"Kami melihat itu sebagai nasehat seorang ibu kepada anaknya untuk mendapatkan kehidupan yang layak, namun direspon demikian oleh pelaku," terangnya.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved