Berita Solo Terbaru

Pandangan Sosiolog UNS Soal Tragedi Kanjuruhan Malang, Bicara Soal Fanatisme Sepak Bola

Sosiolog UNS mengingatkan soal Fanatisme berlebihan tidak dibenarkan. Hal itu juga yang memicu tragedi Kanjuruhan di Malang.

Penulis: Eka Fitriani | Editor: Ryantono Puji Santoso
Tribunsolo.com/Ibnu Dwi Tamtomo
Suasana saat tabur bunga yang dihadiri suporter berbagai wilayah di Monumen Juang 45, Klaten, Senin (3/10/2022). Ribuan suporter dari berbagai tim itu berkumpul mengenakan kaos hitam bak kawanan semut sebagai tanda duka atas tragedi Kanjuruhan di Malang 

Laporan wartawan Tribunsolo.com, Eka Fitriani 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Jagat sepak bola Indonesia kembali berduka.

Pasalnya, pertandingan pekan ke-11 BRI Liga 1 yang mempertemukan Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang pada Sabtu (1/1/2022) lalu menelan ratusan korban jiwa.

Banyaknya jiwa yang melayang dalam pertandingan Arema FC vs Persebaya tersebut tidak hanya menggemparkan publik Tanah Air, tapi juga dunia.

Bahkan, Presiden FIFA, Gianni Infantino dan Paus Fransiskus ikut bersimpati dengan kejadian memilukan ini.

Perhatian yang sama turut diungkapkan oleh Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Drajat Tri Kartono.

Menurut Dr. Drajat, Tragedi Kanjuruhan dipicu oleh fanatisme suporter yang merusak kelompoknya sendiri.

Ia juga menambahkan, kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan adalah bentuk kekecewaan suporter atas kekalahan Arema FC atas Bajul Ijo.

Sayangnya, kekecewaan mereka dilampiaskan kepada kelompoknya sendiri (manajemen klub).

"Jadi, kejadian yang di Malang itu memang ada beberapa dimensi. Bahwa kejadian itu menjadi kacau balau, kan ada orang banyak," kata Drajat, Rabu (5/10/2022).

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kericuhan di Stadion Kanjuruhan Malang semakin menjadi-jadi karena adanya "pihak" yang menghalang-halangi ekspresi kekecewaan suporter.

Baca juga: Duka Kanjuruhan, Seniman Bikin Mural di Jalan Gatot Subroto Solo : Kirim Doa untuk Para Korban 

"Karena menghalangi ekspresi itu, kemudian jadilah kaya ngamuk ke semua arah. Bentrok dengan aparat juga. Ya, karena aparat harus berada di tengah-tengah juga. Karena tidak ada Bonek, jadi mereka menyerang ke dalam," ujar Drajat.

Drajat juga menilai bahwa peristiwa tersebut merupakan bukti ketidaksepahaman antara manajemen klub dan suporter. Hal ini dikatakan Dr. Drajat memicu konflik di dalam dan menyulut emosi.

"Bahwa pengorganisasian identity dalam in group itu akan mudah menyerang ke dalam kalau ada perpecahan di dalam kelompok itu," kata Drajat.

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved