Berita Solo Terbaru

Seminar Koleksi Museum Keris Nusantara: Keris Warisan Luhur Budaya Bangsa, Bukan Benda Syirik

Seminar yang diadakan museum keris di Solo menegaskan posisi Keris sebagai benda budaya, bukan benda syirik. Anak muda diharapkan mengenal keris.

TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin
Suasana Seminar Tentang Koleksi Museum Keris Nusantara pada Minggu (13/11/2022) di Museum Keris Nusantara. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Museum Keris mengadakan Seminar Tentang Koleksi Museum Keris Nusantara pada Minggu (13/11/2022) di Museum Keris Nusantara.

Seminar ini sebagai upaya untuk menegaskan bahwa keris bukanlah benda syirik yang harus dihindari.

Lebih dari itu, keris merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan.

"Ini sebagai salah satu upaya kami melestarikan budaya yang sudah menjadi warisan dunia Unesco. Kita lestarikan dengan daya upaya kita," jelas Kepala UPT Museum Keris Nusantara, Luthfi Khamid.

Menurutnya, upaya dalam memberikan pemaham ini masih belum sepenuhnya berhasil.

"Contoh ketika ada kegiatan saya tanya salah satu pelajar, keris untuk apa, untuk bela diri, berperang. Tidak jauh dengan senjata," jelasnya.

Bahkan ada yang menganggap keris harus dijauhkan karena bentuk kesyirikan.

Baca juga: Kiai Tengara, Keris Milik Presiden Jokowi yang Jadi Koleksi Museum Keris, Punya Makna Mendalam 

"Belum lagi tanyakan pak ustadz barang yang mengarah ke syirik," terangnya.

Ia pun ingin acara semacam ini dapat menyasar kalangan lebih luas agar semakin banyak yang menyadari bahwa keris merupakan warisan berharga yang perlu dilestarikan.

"Kalau bisa lebih luas lagi memberikan pemahaman soal keris," ungkapnya.

Salah satu narasumber, Wakil Ketua DPRD Solo dari Fraksi PKS, Sugeng Riyanto menambahkan, ia merasa cukup heran jika orang Solo tidak mengakui warisan budaya ini, padahal UNESCO saja mengakuinya.

"Mengakui keris sebagai warisan budaya. Masak sih kita orang Solo malah tidak mengakui. Apalagi Solo sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa," tuturnya.

Keris menjadi suatu pusaka tanda kehormatan yang telah diwariskan sejak zaman perang kemerdekaan.

"Para wali, Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman juga berkeris. Cara melantik komandan batalyon dengan memberikan keris," jelasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved