Berita Karanganyar Terbaru

Puluhan SDN di Karanganyar Bakal Diregrouping, Pelaksanaan Tunggu Tahun Ajaran Baru

Puluhan SD di Karanganyar bakal diregrouping. Ada banyak pertimbangan terkait hal ini. Salah satunya soal jumlah siswa, kenyamanan belajar dan lainnya

TribunSolo.com/Mardon Widiyanto
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, Senin (14/11/2022). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Puluhan Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kabupaten Karanganyar bakal digabung atau regrouping.

Pelaksanaan penggabungan SDN di Kabupaten Karanganyar akan dimulai bersamaan dengan tahun ajaran baru.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo mengatakan, ada sekira 94 SDN dari 550 SDN yang bakal terimbas regrouping atau penggabungan.

"Regrouping masih on proses, rencana eksekusi akan dilakukan bersamaan dengan tahun ajaran yang baru," ucap Yopi kepada TribunSolo.com, Senin (14/11/2022).

Yopi mengatakan, alasan eksekusi penggabungan dilakukan bersamaan tahun ajaran baru karena terkait dengan masalah dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Dia menuturkan, dana BOS tidak bisa berubah di tengah jalan, sehingga tidak bisa dilakukan penggabungan sekolah.

"Itu terkait di dana BOS, sehingga dana BOS tak bisa dirubah di tengah jalan," ungkap Yopi.

"Dari 94 SDN yang diusulkan untuk regrouping, tetap diseleksi mana yang benar-benar layak," imbuh Yopi.

Baca juga: Dukung Regrouping 70 SD Negeri di Karanganyar, Bupati Juliyatmono : Mempermudah Guru Mengajar

Dia menuturkan, pertimbangan penggabungan SDN nantinya diambil dari berbagai aspek.

Mulai berapa lulusan dari pelajar Taman Kanak-kanak yang mencari SDN hingga masalah keselamatan dan kenyamanan siswa-siswi SDN.

"Sebagai contoh, SDN 1 Malangjiwan bakal digabungkan ke SDN 5 Malangjiwan dengan pertimbangan, sekolah tersebut dalam kondisi kecil serta sempit dan berada di pinggir jalan besar, sehingga tidak ada ruang untuk belajar dan bermain serta sulit berkembang," ujar Yopi.

Dia menuturkan, banyak orang salah persepsi terkait proses penggabungan sekolah seperti Guru, Orang tua murid hingga Komite Sekolah.

Hal tersebut terjadi di SDN 1 Malangjiwan.

"Ada terjadi pertentangan dari komite hingga orang tua murid, namun ada suatu peristiwa yang membuat mereka mau digabung yaitu ada pelajar SDN 1 Malangjiwan yang nyaris tetabrak kendaraan," pungkas Yopi. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved