Berita Solo Terbaru

Kagumi HOS Cokroaminoto, Jadi Alasan Garin Nugroho Angkat Minoritas di Film : Suarakan Kebangsaan

Tiap kali memproduksi film, Garin Nugroho dengan sengaja mengangkat tema minoritas dengan tujuan menyuarakan kebangsaan

Tribunsolo.com/Eka Fitriani
Produser dan sutradara film tanah air, Garin Nugroho Riyanto, saat ditemui TribunSolo.com usai pemberian gelar Doktor Kehormatan Bidang Seni Penciptaan Seni Film oleh ISI Surakarta, Selasa (6/12/2022). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Eka Fitriani

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Produser dan sutradara film tanah air, Garin Nugroho Riyanto telah berkarya selama 40 tahun dengan memberikan sumbangsih dalam dunia perfilman Indonesia.

Garin Nugroho bahkan seringkali mendapatkan prestasi luar biasa lewat ratusan karyanya sejak tahun 80-an.

Sang sutradara sengaja memproduksi film dengan tema minoritas dengan tujuan kebangsaan.

“Film-film yang saya produksi memang ada tujuannya selama ini,” kata Garin Nugroho, usai resmi menerima gelar Doktor Kehormatan (Dr. Honoris Causa) bidang seni penciptaan seni film dari ISI Surakarta, Selasa (6/12/2022).

“Seperti semakin banyak film yang kurang banyak bercerita tentang minoritas. Sehingga saat saya berkarya, saya jadi punya tujuan yakni kebangsaan,” katanya.

Garin Nugroho menceritakan kekagumannya terhadap salah satu pemimpin Sarekat Islam (SI), Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.

Baca juga: PR Garin Nugroho Usai Bergelar Doktor Kehormatan : Jadikan Budaya Prioritas Selain Politik & Ekonomi

HOS Cokroaminoto merupakan pemimpin yang melahirkan 3 pemimpin yang dulunya merupakan tokoh pergerakan yakni Soekarno, Semaoen, dan Kartosoewirjo.

Soekarno kemudian mendirikan Partai Nasional Indonesia.

Semaoen menjadi tokoh-tokoh utama Partai Komunis Indonesia serta SM Kartosoewirjo kemudian menjadi pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

“Nasionalis, komunis dan Islam aja dibawah seorang guru besar Islam, bapak bangsa Islam yang saat demokratis,” katanya.

“Jadi saya sedari awal memang membangun film dengan cara begitu, membangun film untuk memberikan gugatan, renungan dan kebersamaan berbangsa,” tambahnya.

Selama ini, karya Garin tak ubahnya menjadi semacam tempat membaca sejarah Indonesia dalam perspektif personal dari era awal abad 19 hingga sekarang.

Karya-karya tersebut langsung atau tidak langsung menjadi bagian menghidupkan masyarakat sipil yang demokratis lewat beragam sisi pandang personal.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved