Polisi Tembak Polisi

Analisa Pakar Hukum Pidana soal Isi Pleidoi Ferdy Sambo : Arahkan Pembunuhan sebagai Aksi Spontan

Aan menyebut Sambo ingin mengarahkan bahwa peristiwa Duren Tiga terjadi karena tindakan spontanitas yang dipicu oleh emosi semata.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Warta Kota/YULIANTO
Terdakwa kasus pembunuhan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Ferdy Sambo menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (19/12/2022). 

TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA - Pakar Hukum Pidana, Aan Widianto memberikan analisanya terkait nota pembelaan atau pleidoi milik terdakwa Ferdy Sambo.

Menurut Aan Widianto, dalam pleidoinya Ferdy Sambo cenderung ingin mengarahkan bahwa peristiwa penembakan di Duren Tiga adalah kejadian pembunuhan biasa yang tidak direncanakan.

Aan menyebut Sambo ingin mengarahkan bahwa peristiwa Duren Tiga terjadi karena tindakan spontanitas yang dipicu oleh emosi semata.

Baca juga: Ferdy Sambo Masih Percaya Putri Candrawathi Dirudapaksa Brigadir J, Air Mata Istri Meyakinkannya

"Arah yang disampaikan terdakwa dalam pleidoinya, pertama adalah menyampaikan bahwa ini merupakan tindakan spontan karena emosi," kata Aan dalam tayangan Kompas TV, Selasa (24/1/2023).

Adapun dalam nota pembelaannya, Sambo juga menegaskan bahwa tak ada perintah kepada Richard Eliezer atau Bharada E untuk menembak Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Perintah tersebut ditegaskan Sambo hanya berupa kata 'hajar'.

Ferdy Sambo lantas mempertegas bahwa peristiwa tersebut bukan pembunuhan berencana dengan kembali mengungkit soal dirinya akan bertanggung jawab atas keterlibatan Bharada E yang menembak Yosua.

Baca juga: IPW Curiga Jika Ferdy Sambo Divonis Hukuman Mati Bakal Bongkar Pelanggaran para Perwira Polisi

"Dan menurut keterangan terdakwa, dalam pleidoinya, memang ini tidak berencana. Kalau terjadi penembakan, seperti disampaikan FS di persidangan, dia akan bertanggung jawab, arahnya memang ke pembunuhan biasa," ungkap Aan.

Diberitakan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut Ferdy Sambo dihukum pidana seumur hidup dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Dengan begitu, Sambo lolos dari ancaman hukuman mati.

Diketahui, pembunuhan berencana Brigadir J itu diotaki oleh Eks Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo. Adapun pembunuhan itu dilakukan di rumah dinas Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan pada 8 Juli 2022.

Baca juga: Tanggapan Kompolnas soal Gerakan Bawah Tanah Pengaruhi Vonis Ferdy Sambo, Sebut Hal yang Masuk Akal

Dalam kasus ini, JPU meyakini Sambo bersalah dalam kasus pembunuhan yang membuat Brigadir J tewas dalam kondisi tertembak.

Perbuatan Sambo pun juga telah memenuhi rumusan perbuatan pidana.

Akibat perbuatannya itu, JPU pun menuntut Ferdy Sambo agar dijatuhkan pidana seumur hidup penjara.

Dia dinilai melanggar pasal 340 juncto Pasal 55 ayat 1 ke (1) KUHP.

(Tribunnews.com)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved