Klaten Bersinar

Sekda Jajang Prihono Ungkap Penyebab Kasus Kematian DBD Klaten, Minta Jangan Ragu Periksa ke Faskes

TribunSolo.com / Ibnu DT
Sekda Klaten, Jajang Prihono 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Sekda Klaten, Jajang Prihono mengaku sudah menemukan penyebab kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Klaten.

Sebagaimana diketahui, kasus DBD di Kabupaten Klaten belum mereda.

Tercatat hingga pekan ke-18 bulan Mei 2024 terdapat ratusan kasus di Kabupaten Klaten.

"Sampai minggu ke-18 terdapat 477 kasus 23 kematian," Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten, Hanung Sasmito Wibowo.

"Dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang terdapat 148 kasus dengan 9 kematian, berarti terjadi peningkatan kasus di tahun 2024 dibanding 2023," imbuhnya.

Baca juga: Ajak Lestarikan Lingkungan, Ini Penjelasan Wabup Yoga Hardaya Soal Geoheritage Bayat Klaten

Dari jumlah tersebut, anak-anak masih mendominasi kasus kematian.

Dari total 23 kematian akibat DBD diantaranya 16 anak-anak, 2 remaja, 4 dewasa dan 1 lansia.

Peningkatan kasus yang terus terjadi mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten mencari penyebabnya.

Setelah melalui proses evaluasi secara berjenjang, Sekda Klaten menemukan benang merah yang diduga menjadi penyebab kasus tersebut belum mereda.

"Sebenarnya ada beberapa hal penyebab kasus ini menjadi banyak. Benang merahnya sudah ketemu, ada beberapa keterlambatan penanganan yakni dari pihak keluarga dan penanganan di faskes (fasilitas kesehatan)," ungkap Jajang usai memimpin rapat koordinasi dengan OPD se-kabupaten Klaten.

Lebih lanjut, Jajang mengatakan jika ketidaktahuan akan gejala DBD disinyalir menjadi biang keladinya.

Terlebih gejala yang ditimbulkan merupakan gejala yang baru jarang diketahui.

"Bahwa orang panas tidak diketahui bahwa itu adalah DBD, ditambah lagi saat ini gejala DBD ditandai dengan diare. Sehingga mereka tahunya itu bukan DBD, namun setelah masuk masa kritis baru diketahui bahwa itu adalah DBD," jelas dia.

"Masyarakat melihat tanda-tanda seperti masuk angin biasa sehingga penanganannya jadi terlambat, dari keluarga menuju fasilitas kesehatan,".

"Di faskes juga begitu, karena ada mutasi nyamuk sehingga ada tambahan gejala diare, akibatnya gejala baru tersebut tidak masuk ke dalam gejala DBD. Sehingga kita melihat ada titik-titik keterlambatan di sana," tambahnya.

Baca juga: Stasiun Lapangan Geologi UGM Diresmikan Menteri PUPR, Semoga Jadi Sarana Edukasi Masyarakat Klaten!

Dengan temuan tersebut, pihaknya melalui Dinkes Klaten akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menekan penambahan kasus di Kabupaten Klaten.

"Dengan temuan ini kita sudah melakukan beberapa langkah untuk mensosialisasikan gejala DBD, sehingga masyarakat tahu saat keluarganya mengalami gejala yang serupa berarti bisa dikategorikan di DBD dan bisa segera menuju faskes terdekat," tegasnya.

Untuk menekan kasus DBD, Jajang tak bosan menghimbau kepada masyarakat agar terus menjalankan budaya hidup sehat.

"Tentunya terkait pencegahan sudah ada tata caranya yaitu PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk), selalu upayakan kondisi lingkungan dalam keadaan bersih, tidak ada genangan air agar lingkungan terhindar dari kemungkinan menjadi sarang nyamuk," ujarnya.

Lanjut, Jajang juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala dan bahaya penyakit tersebut. Apabila memiliki gejala serupa, ia meminta masyarakat segera menuju faskes terdekat.

"Terkait dengan penanganan jika memang ada keluarga yang memiliki gejala panas, diare, daripada didiamkan atau ragu-ragu, bisa langsung saja menuju faskes terdekat agar bisa didiagnosa dan mendapatkan penanganan sehingga tidak terlambat," pungkasnya.

(*/ADV)