Klaten Bersinar

Dinkes Minta Masyarakat Klaten Waspada Penyakit DBD, Ingatkan Soal Genangan Air

TribunSolo.com/Ibnu Dwi Tamtomo
INGATKAN SOAL DBD. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten Anggit Budiarto. Dia meminta untuk memperhatikan genangan air di sekitar yang menjadi wadah perkembangbiakan nyamuk. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten, Anggit Budiarto menyampaikan bahwa jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Klaten hingga minggu pertama Mei 2025 atau minggu ke-15 mencapai 262 kasus dengan dua kematian. 

"DBD kita sampai ke minggu ini (Senin, 5/5/2025) itu totalnya 262 dengan dua kematian," ungkap Anggit ditemui usai mengikuti rapat koordinasi di Pendopo Pemkab Klaten, pada Senin (5/5/2025). 

Lebih jauh ia mengatakan, jika jumlah tersebut alami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.

Meski menurun, namun angka tersebut masih tergolong tinggi. 

"Tapi dibandingkan dengan minggu yang sama di tahun lalu itu ada 347 kasus dengan 17 kematian. Jadi ini terjadi penurunan kalau dibandingkan dengan tahun lalu." 

"Tapi ini masih saya mengkategorikan (kasus DBD) di Klaten masih tinggi," ungkap Anggit.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar korban meninggal dunia akibat DBD adalah anak-anak.

Baca juga: Peringatan May Day 2025, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo Apresiasi Buruh dan Kecam Aksi Anarkis

Terkait fenomena ini, Anggit berharap agar ke depan tidak ada lagi genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk.

"Semoga ke depan sudah tidak ada (genangan) air. Karena harapan kami itu tidak ada (genangan) air untuk tempat hidupnya (jentik). 

"Yang jelas, dengan minimnya tempat-tempat penampungan air di lingkungan sekitar, kita bisa menekan perkembangan nyamuk DBD dan harapannya nanti kasusnya menurun," jelasnya.

Anggit juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada, mengingat jentik nyamuk saat ini sudah bisa membawa virus DBD meski belum menggigit manusia.

"Saya sampaikan pada masyarakat, jentik (DBD) sekarang ini adalah jentik yang sudah bisa membawa penularan tanpa menggigit orang terlebih dahulu. Sehingga kalau jentik itu menjadi dewasa akan menimbulkan masalah," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kerawanan suatu wilayah terhadap DBD adalah adanya rumah-rumah kosong yang tidak berpenghuni dan kurang terawat.

"Melihat kasus terdahulu, di beberapa daerah itu ada satu wilayah yang tidak berpenghuni, jadi perumahan ditinggal (tidak terawat)." 

"Namun, kalau tempat-tempat umum, tempat ibadah, sekolahan, semuanya bersih. Hanya biasanya terlena itu kalau rumah tetangganya kosong. Kurang begitu memperhatikan soal kebersihan rumah yang bersangkutan," pungkasnya. (*)