Klaten Bersinar
Mapak Suran 2025 Kirab Pager Banyu di Kampung Siluman Lereng Merapi, Konservasi Alam Lewat Budaya
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Dalam rangka menyambut datangnya bulan Sura dalam kalender Jawa, Warga sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) khususnya warga Dukuh Ngemplak Butuh Kulon, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten menggelar acara Mapak Suran Kirab Pager Banyu pada 5–6 Juli 2025.
Acara yang berlokasi di Kampung Siluman, TNGM ini menjadi wadah pelestarian budaya sekaligus kampanye konservasi air.
Baca juga: Kontes Motor 2 Tak dan Rolling Thunder, Warnai Rangkaian Hari Jadi ke-221 Klaten
Kegiatan ini dimulai pada Sabtu, 5 Juli 2025, pukul 07.00 WIB, dengan rangkaian acara meliputi dandan kali (pembersihan sungai), diskusi bertema “Pager Banyu” yang menyoroti pentingnya konservasi air, serta pentas seni tradisional Gedruk Merapi. Selain itu, peserta juga dapat mengikuti sesi camping di alam terbuka.
Puncak acara berlangsung pada Minggu, 6 Juli 2025, pukul 13.00 WIB dengan kirab budaya bertajuk Kirab Pager Banyu yang dilaksanakan di kawasan Kali Butuh menuju Kampung Siluman.
Secara berurutan kaum adam memanggul gunungan berisi hasil bumi seperti entik, tapai dan berbagai olahan umbi-umbian siap saji serta bibit pohon sebagai simbol konservasi sumber mata air.
Tepat dibelakangnya anak-anak dengan riasan tebal dan pemuda membawa kuda lumping khas penari jatilan mengikuti, serta kaum hawa yang membawa jenang manggul dan beberapa anak perempuan mengenakan kebaya bermotif lurik membawa tampah.
Dan barisan terakhir berisi pemain musik yang mengiringi mantra pager banyu dan setiap langkah rombongan dengan menggunakan alat musik pukul sederhana mulai dari kentongan, kemanak hingga angklung.
"Pring rajek pring, mageri banyu bening, ngadahi kang peparing, hanguripi kang peparing," menjadi syair atau mantra yang diucapkan diiringi suara alat musik.
Cuaca yang tak bersahabat, rintik hujan diselimuti suhu dingin tak menyurutkan semangat warga menjalankan kirab.
Dalam kirab tersebut juga ditampilkan beberapa pertunjukan khas yang menggambarkan semangat dan spiritualitas masyarakat lereng Merapi dalam menjaga keseimbangan alam.
Peserta kirab melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak melintasi tepi Kali Woro berupa jalan berbatu hingga memasuki kawasan hutan di taman nasional.
Di kaki tebing yang sunyi, diapit akar-akar pepohonan yang menjuntai dari dinding batu, mengalir pelan tetesan air yang tak pernah berhenti. Di situlah Belik Kali Putih berada, sebuah sumber air sederhana yang tidak bening, tak pula melimpah, namun mengandung nilai yang jauh lebih dalam bagi warga Kampung Siluman.
Belik itu bukan sekadar mata air. Ia adalah warisan, bagian dari napas kehidupan yang diwariskan turun-temurun.
Baca juga: Keren! Superhub Klaten Bersinar Resmi Diluncurkan, Bupati Harap Informasi Meluas
Meski bentuknya tak istimewa, warga memperlakukannya dengan penuh hormat. Mereka percaya, merawat belik sama halnya dengan merawat keberlangsungan hidup mereka sendiri.
Pagi itu, suasana berbeda terasa di sekitar belik. Sekelompok warga datang membawa bibit pohon. Ada lima batang pohon yang ditanam di sekeliling sumber air. Bukan pohon sembarangan, melainkan jenis ficus seperti iprik, pohon-pohon yang tak memiliki nilai jual, tapi justru punya kemampuan menyerap air dengan baik.
Pilihan itu bukan tanpa alasan namun agar belik tetap lestari, bebas dari ancaman penebangan dan kekeringan.
Usai menanam, langkah-langkah kaki mereka menapaki jalur ke atas bukit. Di sebuah tanah lapang yang teduh oleh rindangnya pohon pinus dan tanaman khas lereng Merapi lainnya, mereka berhenti.
Alas tikar dibentang, uba rampe dibuka, dan jenang manggul dibagi rata. Di tengah semilir angin dan udara pegunungan yang segar, mereka berbagi makanan, cerita, dan tawa.
Anak-anak tak tinggal diam. Mereka naik ke panggung alam yang diciptakan dari tanah lapang, menari, menyanyi, dan memainkan kesenian tradisional. Tawa riang dan tepuk tangan pecah, membuat kampung yang biasanya senyap itu berubah menjadi ruang kebahagiaan.
Hari itu, Kampung Siluman tak hanya merayakan kebersamaan. Mereka merayakan kepedulian, merawat alam, dan menjaga warisan air dari tebing agar tetap mengalir bagi generasi berikutnya.
Mapak Suran dan Kirab Pager Banyu merupakan bentuk kolaborasi antara pelaku seni, komunitas lokal, serta pengelola kawasan konservasi, yang bertujuan menghidupkan kembali tradisi leluhur sekaligus meningkatkan kesadaran ekologis masyarakat.
Acara ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi daya tarik wisata budaya dan edukasi lingkungan di lereng Merapi.
Seperti yang diungkapkan Ketua RT 016/RW 006, Desa Sidorejo Jenarto, hingga saat ini sekira 3.000 pohon ditanam warga bersama TNGM tepat di kawasan Kampung Siluman yang dilakukan selama 18 hari berturut-turut sebelum rangkaian kegiatan tersebut.
Kirab Pager Banyu, disampaikan Jenarto telah menjadi agenda rutin selama lima tahun terakhir dan digelar saat Bulan Sura, kegiatan itu sekaligus sebagai bagian langkah konsisten warga dalam konservasi di lingkungan tempat mereka tinggal.
“Mimpi ke depan ada kesadaran dalam pengelolaan air. Paling tidak karena memang kami tidak punya sumber, ya solusi untuk menyelesaikan air mungkin bisa membangun penampungan air hujan dengan kapasitas besar atau mungkin dengan pengelolaan-pengelolaan yang lebih efektif efisien gitu di pengelolaan penggunaan air di rumah tangganya masing-masing."
"Harapan untuk belik (sumber mata air) dari pohon yang ditanam dan membuat lubang resapan, debit beliknya bisa lebih besar lagi,” pungkas Jenarto.
(*/adv)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Kirab-di-klaten.jpg)