Mengenal Sanggar Metta Budaya, Sanggar Tari Tertua di Kota Solo
Didirikan pada tahun 1989 oleh para alumnus Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) atau yang sekarang menjadi SMK Negeri 8 Surakarta.
Penulis: Eka Fitriani | Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Eka Fitriani
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sanggar Metta Budaya merupakan sanggar tari tertua di Kota Solo.
Sanggar Tari Metta Budaya ini baru saja merayakan ulang tahun ke-27 di Gedung Wayang Orang Taman Sriwedari tadi malam, Minggu (7/8/2016).
Sanggar Tari Metta Budaya merupakan tempat belajar-mengajar menari di Kota Solo, baik itu tari tradisi maupun tari kontemporer.
Didirikan pada tahun 1989 oleh para alumnus Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) atau yang sekarang menjadi SMK Negeri 8 Surakarta.
Sanggar ini berpusat di Taman Sriwedari tepatnya di Joglo dan cabang sanggar Metta Budaya ini berada di Mojosongo.
Di sanggar Metta Budaya di Mojosingo terdapat sekitar 60 hingga 80 anak yang menjadi anggota sanggar ini.
Sedangkan anggota pusat yaitu Joglo di Sriwedari sekitar 250-an anggota Metta Budaya.
Latihan anggota setiap seminggu 2 kali yaitu Selasa dan Jumat atau Rabu dan Jumat.
Biaya pendaftaran sekaligus SPP per bulan sebesar Rp 50.000 sedangkan untuk SPP setiap bulan Rp 20.000 hingga Rp 25.000.
Ketua produksi sekaligus alumni Sanggar Seni Metta Budaya, Muslimin Bagus Pranawa, mengatakan bahwa anggota dari playgroup sudah bisa masuk sanggar.
"Kita pembinaan dari anak-anak kecil, dari masuk playgroup sudah bisa kok kita masukin ke Metta Budaya," katanya.
"Tapi nanti untuk urusan dia mau bertahan sampe seberapa dia pandai menari ya tergantung anak-anaknya juga," ujarnya.
"Kita nguri-nguri kebudayaan Jawi dan di sisi lain kita mau menanamkan ke anak-anak kecil untuk mengenal kebudayaan Jawa yang menempel," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/sanggar-tari-metta-budaya-menari-penari_20160808_152845.jpg)