Kanal

Soimah Bagikan Sembako di Tengah Pandemi Corona, Terungkap Pekerjaan Mertuanya di Yogyakarta

Soimah bagikan paket sembako

Ia juga memiliki bisnis penggilingan padi.

"Katanya juragan bus ya? Bus transportasi kan?" tanya Raffi kepada Koko.

"Ya awalnya punya (bisnis) transportasi, terus gabah (atau) penggilingan padi," ujar Koko saat ditanya Raffi.

"Sekarang masih ada," imbuhnya.

Soimah pun sempat berceletuk.

"Makanya gue mau sama dia," timpal Soimah.

Raffi Ahmad kemudian mengambil kesimpulan jika Koko merupakan salah satu orang yang cukup 'berada' di kampungnya.

"Ooo, jadi (Koko) orang berada di kampungnya gitu," ujar Raffi yang diiyakan Soimah.

Dalam video berbeda, Soimah dan Koko juga memberikan klarifikasi tentang kabar jika mereka memiliki SPBU alias pom bensin di Yogyakarta.

Bahkan dari gosip yang beredar, Soimah disebut-sebut memiliki banyak tanah di Yogyakarta.

"Emang bener ma'e punya pom bensin di Jogja?" tanya Raffi membacakan komentar warganet.

"Kabarnya bukan hanya pom bensin, tapi butik, restoran. Katanya pokoknya sebagian Jogja itu punya saya, sawahnya di mana-mana," jawab Soimah.

Ia melanjutkan itu adalah hoaks.

"Itu adalah kabar burung. Gue mah kaya gaya doang di tv, aslinya enggak ada apa-apanya dibanding Raffi Ahmad," kelakar Soimah.

Soimah kemudian manambahkan pundi-pundi kekayaan mayoritas berasal dari dunia entertainmen.

"Ada sih bisnis kecil-kecilan travel. Cuma ada lima biji doang," kata Soimah.

"Kalau travel kan biasanya banyak kan puluhan ratusan. Tapi ya Alhamdulillah buat tambah-tambah," ungkapnya.

Simak video selangkapnya di bawah:

Kisah hidup Soimah di masa lalu memang cukup berat.

Soimah Pancawati yang lahir di Pati pada 29 September 1980 awalnya adalah seorang penyanyi dan pembawa acara yang berdomisili di Yogyakarta.

Saat masih tinggal bersama orang tuanya di Pati, Jawa Tengah, penyanyi yang juga penari dan sinden itu bahkan pernah kerja sebagai pembawa es balok.

"Saat masih SD sampai SMP di Pati, aku suka menggendong es balok hingga 200 meteran," kata Soimah.

Sebagai pembawa es balok, selain harus tahan dingin, Soimah juga bekerja sedari sore hingga menjelang subuh.

"Aku kerja sampai malam, jam 03.00 subuh bangun lagi terus bantu ibu ke pasar," cerita Soimah.

Di pasar dekat rumahnya, ibu Soimah berjualan ikan.

Soimah kecil pun membantu ibunya berjualan ikan.

"Aku sering bersihin ikan," katanya.

Tidak hanya membersihkan, Soimah juga rajin menaburi ratusan ikan-ikan yang akan dijual ibunya itu dengan garam.

Begitu usai menaburi dengan garam, Soimah kemudian mengeringkan ikan-ikannya di pinggiran pantai.

"Kadang-kadang cari alang-alang di sawah juga," kata Soimah mengenang masa kecilnya saat masih di Pati.

Potret Soimah jadul. (ISTIMEWA)

Selepas dari pasar nelayan itu, Soimah baru masuk sekolah.

"Aku ke sekolah juga masih bau ikan sampai tanganku merah-merah karena bersihin ikan," cerita Soimah.

Lantaran orang tuanya hidup serba pas-pasan, Soimah tidak pernah diberi uang saku setiap kali berangkat ke sekolah.

Dari sekolahnya itu, Soimah iseng-iseng mencari penghasilan.

Kebetulan, di sekolahnya ada grup ketoprak tobong.

Soimah pun bergabaung dengan grup ketoprak sekolahnya.

Lewat pementasan itu, Soimah mencari-cari uang recehan buat jajan.

Memutuskan terjun ke dunia seni, karier Soimah justru terus menanjak hingga seperti sekarang. (*)

Penulis: Hanang Yuwono
Editor: Rifatun Nadhiroh
Sumber: TribunSolo.com

Berita Populer