Klaten Bersinar

Cuaca Panas Terik di Klaten, Dinkes Ingatkan Warga Minum 3–6 Liter Air Setiap Hari, Cegah Dehidrasi

Tribun Solo / Ibnu Tamtomo
INGATKAN BANYAK MINUM. Kepala Dinas Kesehatan Klaten Anggit Budiarto saat dijumpai di Klaten, Senin (20/10/2025). Kepala Dinas Kesehatan Klaten Anggit Budiarto, mengimbau warga untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh selama cuaca ekstrem berlangsung. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN – Suhu udara yang mencapai hingga 40 derajat celsius saat siang hari di Kabupaten Klaten membuat masyarakat harus lebih waspada terhadap risiko dehidrasi dan turunnya daya tahan tubuh. 

Kepala Dinas Kesehatan Klaten Anggit Budiarto, mengimbau warga untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh selama cuaca ekstrem berlangsung.

Baca juga: Festival Kopi di Klaten, Bupati Hamenang Harap Produk Lokal Makin Berkembang

Menurutnya, kondisi panas seperti ini menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan melalui keringat dan urin.

“Suhu di Kabupaten Klaten rata-rata di atas 36 derajat, bahkan pernah mencapai 40 derajat. Otomatis tubuh akan mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan,” jelas Anggit, Senin (20/10/2025).

Untuk menjaga tubuh tetap sehat, Anggit menekankan pentingnya asupan air mineral setiap hari.

“Saya menganjurkan antara 3 sampai 6 liter air mineral setiap hari, satu hari satu malam,” ujarnya.

Ia menambahkan, meski minuman lain seperti teh juga bisa dikonsumsi, namun air putih tetap menjadi pilihan terbaik.

“Teh enggak apa-apa, tapi saya sarankan tetap air mineral,” katanya.

Cuaca ekstreem di solo terus terjadi
TERIK MATAHARI. Potret cuaca panas di Kabupaten Klaten, Senin (20/10/2025). Kepala Dinas Kesehatan Klaten Anggit Budiarto, mengimbau warga untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh selama cuaca ekstrem berlangsung.

Baca juga: Bupati Klaten Hamenang Tinjau Lokasi Terdampak Angin Kencang: Langsung Perbaikan dan Bantu Warga!

Selain dehidrasi, cuaca panas juga berpotensi menurunkan daya tahan tubuh yang bisa memicu penyakit ringan seperti influenza, batuk, dan pilek. Karena itu, masyarakat diminta memperhatikan pola makan bergizi seimbang.

“Tingkatkan imun tubuh dengan makan bergizi-nasi, lauk, sayur, dan buah, serta hindari paparan langsung sinar matahari,” tutur Anggit.

Sementara itu, Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Giyarto, menjelaskan bahwa fenomena panas ini merupakan bagian dari masa pancaroba.

“Oktober adalah bulan terpanas dalam satu tahun. Temperaturnya lebih tinggi daripada bulan-bulan yang lain,” ungkapnya.

BMKG juga memperingatkan potensi angin kencang, hujan disertai petir, bahkan puting beliung di akhir Oktober.

“Daerah yang memiliki histori sambaran petir dan banjir bandang perlu waspada terhadap cuaca kondisi ini,” pungkas Giyarto.

(*/adv)