Apa Itu Tunnel Vision? Bahaya yang Mengintaimu Jika Melamun saat Berkendara

Di jalan raya, kehilangan sepertiga kemampuan memutuskan berarti kehilangan peluang untuk menghindar dari kecelakaan.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Dok Astra Honda Jateng
PENGENDARA MOTOR - Ilustrasi pengendara sepeda motor Honda di jalan raya. Ini bahaya yang mengintaimu jika melamun saat berkendara. 

TRIBUNSOLO.COM, SEMARANG - Di tengah hiruk pikuk jalan raya, seringkali kita melihat pengendara yang secara fisik berada di atas motor, namun pikirannya tertinggal di tumpukan pekerjaan kantor atau urusan lain yang belum usai.

Fenomena ini bukan sekadar lamunan biasa, dalam dunia keselamatan berkendara, inilah yang disebut sebagai beban mental (mental load) yang mematikan.

Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya ada pada reaksi kimia dalam tubuh kita.

Baca juga: Perdana di Jawa Tengah! Laki Code Ajak Modifikator Lokal Pamerkan Karya Modifikasi Motor Honda

Saat pikiran penuh, tingkat stres meningkat, yang secara otomatis memicu lonjakan hormon kortisol.

Hormon ini adalah "pencuri tenaga" yang senyap, ia membuat tubuh lebih cepat lelah tanpa kita sadari.

Ketika kelelahan fisik bertemu dengan stres mental, fokus kita tidak hanya menurun, tetapi menyempit.

Kondisi fokus yang menyempit ini sering disebut dengan Tunnel Vision (pandangan terowongan). Kita hanya melihat apa yang ada tepat di depan, sementara objek dari samping atau perubahan situasi di spion menjadi "tak terlihat" oleh otak.

Penelitian oleh Payne et al. (1993) mengungkapkan bahwa kondisi ini menurunkan kemampuan pengambilan keputusan hingga 33 persen. 

Baca juga: Astra Honda Dream Cup 2026 Siap Digelar, Vario 160 Kembali Siap Melesat!

Di jalan raya, kehilangan sepertiga kemampuan memutuskan berarti kehilangan peluang untuk menghindar dari kecelakaan.

Lantas, bagaimana kita bisa tetap aman di tengah tekanan hidup yang tinggi?

Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng Oke Desiyanto menjelaskan bahwa Zen On Wheels atau yang dikenal dengan sebuah seni berkendara dengan kesadaran penuh (mindfulness) bisa menjadi jawaban.

Artinya, setiap meter perjalanan dilakukan dengan kehadiran mental yang utuh.

Berikut adalah tips praktis untuk mencapai ketenangan dan fokus saat berkendara:

  • Ritual Pra-Berkendara (The 30-Second Reset): Sebelum memutar kunci kontak, duduklah tegak dan ambil napas dalam sebanyak tiga kali. Gunakan waktu ini untuk "meninggalkan" beban pikiran di lokasi keberangkatan dan berjanji pada diri sendiri untuk hanya memikirkan perjalanan.
  • Pindai dan Sadari (Scanning Technique): Secara aktif gerakkan mata setiap 2 detik. Lihat spion, panel instrumen, dan jauh ke depan. Gerakan mata yang aktif mencegah otak terjebak dalam tunnel vision.
  • Kelola Dialog Internal: Jika pikiran mulai melantur ke masalah pribadi, segera ucapkan dalam hati, "Saya sedang berkendara, saya fokus ke jalan." Akui pikiran tersebut, lalu lepaskan.
  • Sadari Tubuh: Jika bahu terasa tegang atau genggaman pada stang terlalu kuat atau pergerakan Anda terburu-buru, itu tanda Anda sedang stres. Kendurkan bahu, lemaskan jari, dan tarik napas dalam biarkan oksigen mengalir lancar.

“Motor yang kondisi prima dan perlengkapan berkendara yang mahal tetap tidak akan bisa menggantikan peran otak yang jernih. Berkendara sejatinya adalah sebuah dialog antara kita, mesin, dan lingkungan sekitar. Ketika kita tenang, kita mampu memproses informasi dengan lebih baik, bereaksi lebih cepat,” ujar Oke.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved