SiMakmur
Soal Pembatasan Gadget untuk Pelajar, Bupati Etik:Ada Jam-Jam Boleh Buka HP Agar Anak Tetap Berpikir
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Bupati Sukoharjo, Etik Suryani mendukung kebijakan pembatasan penggunaan gadget atau telepon genggam bagi pelajar mulai jenjang PAUD hingga SMA di Kabupaten Sukoharjo.
Menurut Etik, penggunaan handphone tanpa pengawasan dapat berdampak buruk terhadap perkembangan anak, terutama dalam pola belajar dan kebiasaan berpikir. Karena itu, penggunaan gadget perlu diatur agar siswa tidak terlalu bergantung pada teknologi dalam proses belajar sehari-hari.
Pernyataan tersebut disampaikan Etik saat peluncuran sekolah unggulan di SD Negeri 01 Telukan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Senin (25/5/2026).
Baca juga: Bupati Etik Jelaskan Perbedaan SD Unggulan dan Sekolah Rakyat, Sama-sama Fokus Pemerataan Pendidikan
“Pembatasan gadget, saya sangat mendukung sekali karena setan gepeng atau HP ini dampaknya sangat buruk,” ujar Etik.
Meski demikian, ia menegaskan telepon genggam tetap memiliki sisi positif apabila digunakan secara tepat.
Menurutnya, HP dapat menjadi sarana belajar sekaligus jendela informasi bagi siswa jika dimanfaatkan sesuai usia dan kebutuhan pendidikan.
“Sebetulnya HP ini fungsinya sangat bagus, jika bisa mengontrol sebagai jendela dunia bagi yang bisa memanfaatkan sesuai usia,” katanya.
Etik menjelaskan, anak-anak dan remaja masih membutuhkan pendampingan dari orang tua maupun guru dalam penggunaan teknologi. Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyiapkan aturan pembatasan penggunaan gadget di lingkungan sekolah.
Dalam aturan tersebut, siswa tetap diperbolehkan membuka handphone, namun hanya pada waktu-waktu tertentu.
“Tadi sudah disampaikan oleh Dinas Pendidikan untuk PAUD, TK, SD, SMP dan SMA ada jam-jam boleh membuka HP biar mereka bisa berpikir,” ungkapnya.
Baca juga: Rencana Pembangunan SD Unggulan di Sukoharjo, DPRD Berpesan Konsep Harus Jelas & Terarah
Ia berharap kebijakan itu mampu menghidupkan kembali budaya membaca dan belajar aktif di kalangan pelajar. Menurutnya, generasi saat ini cenderung terlalu cepat mencari jawaban melalui internet tanpa memahami materi pelajaran terlebih dahulu.
“Kalau dulu kita sekolah buka buku literatur, jangan sampai mereka tanya jawaban lewat HP tanpa membaca buku,” tegasnya.
Etik menambahkan, pembatasan gadget bukan berarti melarang anak mengenal teknologi.
Pemerintah daerah justru ingin teknologi dimanfaatkan sebagai alat bantu pendidikan yang sehat dan produktif, bukan membuat siswa malas berpikir maupun membaca.
Kebijakan tersebut juga menjadi bagian dari upaya Pemkab Sukoharjo meningkatkan kualitas pendidikan melalui program sekolah unggulan yang baru diluncurkan.
Dalam konsep sekolah unggulan itu, siswa tidak hanya dikenalkan pada teknologi seperti coding, tetapi juga didorong aktif dalam pembelajaran kreatif, seni budaya, hingga edukasi lingkungan.
Melalui pembatasan penggunaan gadget, Pemkab Sukoharjo berharap tercipta lingkungan belajar yang lebih sehat, meningkatkan interaksi sosial antar siswa, serta membentuk karakter pelajar yang lebih disiplin dan mandiri.
Baca juga: Ratusan Warga Kurang Mampu di Sukoharjo Dapat Bantuan, Bupati Etik Harap Tak Ada Anak Putus Sekolah
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/ILUSTRASI-Anak-anak-tengah-bermain-gadget-Adapun-kenc.jpg)