SiMakmur
Pemkab Sukoharjo Ajak Generasi Muda Mengenal Jamu: Gaya Hidup Sehat Kekinian, Bukan Cuma Tradisi
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO -Peringatan Hari Jamu Nasional ke-18 pada 27 Mei 2026 menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Sukoharjo untuk mengajak generasi muda lebih mengenal jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat masa kini.
Melalui akun Instagram resminya, Pemkab Sukoharjo bersama jajaran menyampaikan ucapan Selamat Hari Jamu Nasional sekaligus mengajak masyarakat, khususnya anak muda, untuk mulai melihat jamu bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga minuman sehat yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Sehat alami, dan tetap bangga dengan warisan Indonesia,” demikian pesan yang disampaikan Pemkab Sukoharjo dalam peringatan tersebut.
Hari Jamu Nasional sendiri memiliki sejarah panjang. Peringatan ini berawal dari pertemuan para penjual jamu gendong di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, pada 27 Mei 1929.
Pertemuan tersebut menjadi tonggak lahirnya Gabungan Jamu Indonesia (GJO), organisasi yang berperan penting dalam melindungi sekaligus memajukan industri jamu di Tanah Air.
Baca juga: Asal-usul Sukoharjo Dijuluki Kota Jamu, Berawal dari Warga Nguter Bedol Desa Merantau ke Jakarta
GJO dibentuk dengan tujuan memperjuangkan hak-hak pelaku industri jamu serta meningkatkan kualitas produk jamu Indonesia agar semakin berkembang dan dipercaya masyarakat.
Kemudian pada tahun 2008, Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan 27 Mei sebagai Hari Jamu Nasional.
Penetapan tersebut menjadi langkah penting dalam upaya melestarikan jamu sebagai warisan budaya bangsa sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat jamu bagi kesehatan.
Selain menjadi simbol pelestarian budaya, Hari Jamu Nasional juga menjadi pengingat bahwa jamu memiliki peluang besar untuk dikenal di pasar internasional.
Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat, jamu dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi produk unggulan Indonesia di pasar global berkat bahan alami dan khasiatnya yang telah dipercaya turun-temurun.
Sukoharjo sendiri memiliki posisi penting dalam perkembangan industri jamu nasional. Kabupaten ini bahkan dikenal luas sebagai “Kota Jamu”.
Salah satu ikon industri jamu di Sukoharjo adalah Pasar Jamu Nguter yang dikenal sebagai pasar jamu terbesar di Asia Tenggara.
Baca juga: Bupati Etik Dukung Pembatasan Gadget untuk Pelajar, Dorong Anak Kembali Gemar Membaca Buku
Di pasar tersebut, berbagai jenis jamu dari berbagai daerah di Indonesia diperdagangkan dan menjadi pusat distribusi jamu berskala besar.
Inovasi juga terus berkembang di Sukoharjo. Kehadiran kafe jamu pertama di Indonesia di kawasan Pasar Nguter menjadi bukti bahwa jamu mampu mengikuti perkembangan zaman dan menarik minat generasi muda.
Konsep modern yang dihadirkan membuat jamu tampil lebih kekinian tanpa meninggalkan khasiat tradisionalnya.
Tak hanya itu, Sukoharjo juga memiliki kampung jamu yang menjadi sentra produksi jamu tradisional.
Sebagian besar warga di kawasan tersebut menggantungkan hidup dari usaha pembuatan jamu dengan resep warisan keluarga yang terus dijaga hingga sekarang.
Pemerintah Kabupaten Sukoharjo pun terus memberikan dukungan terhadap perkembangan industri jamu melalui berbagai program dan kebijakan.
Dukungan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas, inovasi, dan daya saing produk jamu Sukoharjo, baik di pasar nasional maupun internasional.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/ilustrasi-jamu-tradisional-2024-1.jpg)