Fakta Menarik Tentang Sragen

Sejarah Kampung Dekat Tugu Perbatasan Jateng-Jatim di Sragen, Dulu Jadi Sentra Peternakan Babi

Ketua RT setempat, Sutarno (48) mengatakan bahwa beternak babi di kampungnya itu sudah ada sejak ia lahir.

TribunSolo.com/Septiana Ayu Lestari
SEJARAH DUKUH KEDUNGBANTENG - Tugu perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur yang ada di Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen. 

Ringkasan Berita:
  • Dukuh Kedungbanteng, Desa Banaran, Sambungmacan, Sragen, dulu dikenal sebagai sentra peternakan babi atau mbaben, namun kini hanya tersisa satu peternakan.
 
  • Warga setempat seperti Wagiman menyebut usaha babi marak sejak 1970-an, tetapi mulai ditinggalkan sejak 1990-an karena beralih ke pekerjaan lain.
 
  • Peternakan babi yang tersisa milik Angga merupakan usaha turun-temurun selama 50 tahun, dengan hasil ternak dikirim ke Jakarta.

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Di dekat tugu perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepatnya di Dukuh Kedungbanteng, Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen dulu pernah menjadi sentra peternakan babi.

Orang Jawa dulu menyebut sentra itu dengan sebutan mbaben.

Kini, di wilayah tersebut hanya tersisa satu peternakan babi saja.

Peternakan babi milik salah satu warga setempat itu dalam kondisi bersih, dan terdapat puluhan ekor babi yang dipelihara, baik yang masih kecil maupun sudah siap jual.

PETERNAKAN BABI YANG TERSISA - Salah satu peternakan babi yang masih tersisa di Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen.
PETERNAKAN BABI YANG TERSISA - Salah satu peternakan babi yang masih tersisa di Desa Banaran, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen. (TribunSolo.com/Septiana Ayu Lestari)

Baca juga: 5 Kuliner Non Halal Babi Kuah di Solo Jateng, Ramai Diburu saat Momen Liburan, Ada Langgananmu?

Salah satu warga, Wagiman (74) menceritakan ia dulu merupakan salah satu pemilik peternakan babi.

Ia mencoba mengingat, dimana pada tahun 1974, ia pernah memelihara 30-40 ekor babi saat itu.

"Kemudian tahun 1990-an saya berhenti beternak babi, dan beralih berdagang cilok itu," katanya kepada TribunSolo.com.

"Babi itu kalau beranak bisa 12 ekor sampai 14 ekor," singkatnya.

Sementara itu, ketua RT setempat, Sutarno (48) mengatakan bahwa beternak babi di kampungnya itu sudah ada sejak ia lahir.

"Saya belum lahir sudah ada sentra mbaben disini, bekasnya masih ada, dilihat juga masih bisa, dulu waktu saya kecil banyak (peternakan babi)," ujar Dia.

"Warga sekarang paham, dan memilih usaha lain, yang tersisa tinggal satu itu saja, yang lain beralih pekerjaan jadi buruh dan bengkel," tambahnya.

Baca juga: Dana Desa Tak Bisa Lagi Jadi Tumpuan Pembangunan, Kades di Sragen Berharap dari Pemkab hingga DPRD

Pemilik peternakan babi, Angga menceritakan usaha babi yang ia jalankan sudah berjalan 50 tahun.

"Jadi usaha warisan bapak saya, sejak saya kecil sudah ada, saya melanjutkan usaha setelah lulus SMA," kata Angga.

"Babi semuanya dikirim ke Jakarta," tambahnya singkat.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved