Pohon Tumbang di Boyolali
Bocah SD di Boyolali Selamat dari Maut, Teras Rumah Roboh Tertimpa Pohon saat Angin Kencang
Seorang siswa SD nyaris tertimpa puing teras rumah saat kejadian angin ribut di Randisari Boyolali.
Penulis: Tri Widodo | Editor: Ryantono Puji Santoso
Ringkasan Berita:
- Febri Wulansari, bocah kelas 6 SD, nyaris tertimpa puing teras rumah warga di Kampung Randusari, Kelurahan Kemiri, Kecamatan Mojosongo, saat angin kencang melanda pada Jumat (6/3/2026).
- Saat kejadian, Febri bersama teman-temannya sedang bermain sepak bola di halaman rumah. Mereka sempat berlari ke teras, namun pohon rambutan tiba-tiba tumbang dan merobohkan bangunan tersebut.
- Beruntung anak-anak berhasil menyelamatkan diri sebelum tertimpa balok kayu dan tiang beton.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Febri Wulansari selamat dari maut saat angin kencang melanda Kampung Randusari, Kelurahan Kemiri, Kecamatan Mojosongo, Jumat (6/3/2026).
Bocah kelas 6 SD itu nyaris terkubur oleh puing-puing bangunan teras rumah yang rata dengan tanah setelah tertimpa pohon rambutan tumbang.
Sesaat sebelum angin kencang itu datang, Febri dan beberapa teman sebayanya tengah bermain sepak bola di halaman rumah tersebut.
Saat itu, mendung bergelayut di langit kawasan tersebut.
"Tadi belum hujan. Anak-anak itu masih bermain," kata Titin, salah satu warga.
Tak berselang lama, angin kencang tiba-tiba datang.
Suara gemuruh dedaunan pun membuat beberapa anak itu mengakhiri permainan dan langsung lari ke teras rumah.
Pohon Rambutan Tiba-tiba Tumbang
Namun sayang, pohon rambutan yang ada di pojok depan kiri rumah Untung tiba-tiba tumbang.
Pohon tumbang menimpa teras tempat anak-anak tersebut hingga roboh.
Beruntung, mereka dapat menyelamatkan diri sebelum tertimpa balok kayu dan tiang cor beton penyangga.
Baca juga: Pohon Tumbang Gegara Hujan Deras, Akses 3 Jalan di Macanan Kebakkramat Karanganyar Tertutup
"Anak-anak tersebut bisa lari. Jadi tidak sempat terkubur atap yang roboh semuanya," ujarnya.
Titin mengaku angin kencang ini memang berlangsung singkat.
Hanya sekitar 2–3 menit. Namun, dia melihat sendiri kengerian yang terjadi saat angin kencang itu melanda.
"Jadi daun-daun pohon ini kayak disedot ke atas," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/TRC-BPBD-Boyolali-bersama-warga-kampung3.jpg)