Long Weekend di Solo Raya

Grojogan Sewu Karanganyar Sepi Jelang Long Weekend, Cuma 500 Pengunjung, Ada Apa?

Menjelang long weekend, jumlah pengunjung justru menurun, bahkan saat akhir pekan hanya menyentuh sekitar 500 orang.

Tayang:
TribunSolo.com/Mardon Widiyanto
MULAI SEPI - Kepala Disparpora Kabupaten Karanganyar Yopi Eko Jati Wibowo, Kamis (30/4/2026) malam. Objek wisata Air Terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu mulai kehilangan daya tariknya. Menjelang long weekend, jumlah pengunjung justru menurun, bahkan saat akhir pekan hanya menyentuh sekitar 500 orang. 

Ringkasan Berita:
  • Grojogan Sewu Tawangmangu sepi, pengunjung hari biasa <100>
  • Harga tiket dan persaingan wisata murah jadi penyebab turunnya minat.
  • Pengembangan terhambat aturan konservasi dan beban biaya tambahan.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto 

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Objek wisata Air Terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu mulai kehilangan daya tariknya.

Menjelang long weekend, jumlah pengunjung justru menurun, bahkan saat akhir pekan hanya menyentuh sekitar 500 orang.

Kepala Disparpora Kabupaten Karanganyar, Yopi Eko Jati Wibowo, mengungkapkan kondisi tersebut cukup memprihatinkan.

Suasana objek wisata Grojogan Sewu,di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Minggu (25/2/2023).
PENGUNJUNG MENURUN - Suasana objek wisata Grojogan Sewu,di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Objek wisata Air Terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu mulai kehilangan daya tariknya. Menjelang long weekend, jumlah pengunjung justru menurun, bahkan saat akhir pekan hanya menyentuh sekitar 500 orang. (TribunSolo.com/Mardon Widiyanto)

Pada hari biasa, jumlah pengunjung bahkan tidak mencapai 100 orang.

"Kondisinya sepi, hari biasa pengunjung tidak sampai 100 pengunjung, kalah akhir pekan hanya 500 orang," kata Yopi, Kamis (30/4/2026).

Diduga Gegara Harga Tiket Mahal

Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah harga tiket yang dinilai lebih mahal dibandingkan objek wisata lain.

Saat ini, tiket masuk dipatok Rp 27 ribu untuk hari biasa dan Rp 29,9 ribu saat hari libur.

"Dengan kondisi seperti ini, kemudian ada tempat wisata yang lebih murah, buat objek wisata ini tak diminati," kata dia.

Tak hanya soal harga, pengelola juga menghadapi keterbatasan dalam mengembangkan destinasi tersebut.

Baca juga: Isu Harga Makanan Rp200 Ribu di Grojogan Sewu Karanganyar, Pengelola Tegaskan Tidak Benar

Meski tiket relatif tinggi, ruang inovasi tetap sempit karena berbagai beban biaya dan aturan.

"Mereka menyewa lahan, waktu nyewa dulu 1 hektarnya Rp 700 ribu, mereka masih dibebani penerimaan negara bukan pajak. Kalau pemahaman kami kalau sudah wis bayar kontrak, ya tidak bayar lain-lain, tapi ternyata mereka masih bayar PNBP," kata dia.

Selain itu, status kawasan sebagai lahan konservasi membuat pengelola tidak leluasa menambah fasilitas wisata baru.

"Grojogan Sewu merupakan tanah konservasi, sehingga aturannya banyak, sehingga gak bisa melakukan pengembangan di sana, camping, glamping di sana itu tidak bisa karena tidak boleh, karena terikat aturan dari kementerian kehutanan sehingga tidak bisa mengembangkan inovasi," kata dia.

Baca juga: Kondisi Korban Tewas Tenggelam di Grojogan Sewu Karanganyar, Paru-paru Ditemukan Berisi Air

Dorong Kegiatan Alternatif

Sebagai solusi, Disparpora mendorong kegiatan alternatif seperti event lari (fun run), lomba menari anak, hingga kolaborasi dengan konten kreator untuk menarik minat wisatawan.

Pihaknya juga akan melaporkan kendala tersebut kepada Bupati Karanganyar Rober Christanto dan Ketua DPRD Jateng Sumanto, terutama terkait beban biaya tambahan yang dinilai memberatkan pengelola.

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved