Antisipasi Hantavirus
DKK Sukoharjo Perketat Screening Meski Belum Ada Temuan Hantavirus
Hantavirus belum ditemukan di Sukoharjo, namun antisipasi dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo.
Penulis: Anang Maruf Bagus Yuniar | Editor: Ryantono Puji Santoso
Ringkasan Berita:
- Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo memastikan hingga Mei 2026 belum ditemukan kasus hantavirus di wilayah Sukoharjo.
- Meski belum ada kasus, DKK tetap menerapkan screening dan asesmen di puskesmas maupun fasilitas kesehatan untuk mendeteksi gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan muntah.
- Petugas kesehatan juga menanyakan riwayat kontak dengan tikus atau kotorannya. Warga diimbau menjaga kebersihan lingkungan dan segera berobat jika mengalami gejala mencurigakan.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus hantavirus di wilayah Kabupaten Sukoharjo.
Meski demikian, langkah antisipasi dan kewaspadaan tetap dilakukan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya di tingkat puskesmas.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo, Tri Tuti Rahayu, mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap berbagai penyakit menular yang berpotensi muncul di masyarakat, termasuk hantavirus.
“Hingga saat ini di Sukoharjo belum ada temuan kasus hantavirus. Tapi kami tetap melakukan antisipasi dan kewaspadaan,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, kewaspadaan tersebut dilakukan melalui screening faktor risiko terhadap masyarakat yang datang berobat ke puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya.
Baca juga: Dinkes Boyolali Ungkap Tikus Rumah dan Tikus Got Berpotensi Jadi Pembawa Seoul Virus di Permukiman
Screening tidak hanya difokuskan pada hantavirus, tetapi juga seluruh penyakit yang memiliki gejala awal tertentu.
Ia menjelaskan, petugas kesehatan akan melakukan asesmen awal terhadap pasien yang datang dengan keluhan seperti demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, hingga muntah.
Gejala tersebut menjadi perhatian karena dapat mengarah pada berbagai penyakit infeksi, termasuk hantavirus.
“Kalau ada masyarakat yang mengalami demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual muntah, itu akan dilakukan screening faktor risiko terlebih dahulu oleh petugas kesehatan,” jelasnya.
Menanyakan Riwayat Terkait Tikus
Dalam proses screening tersebut, petugas akan menanyakan riwayat aktivitas maupun kemungkinan kontak pasien dengan tikus atau kotorannya.
Misalnya setelah membersihkan gudang, berada di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, atau aktivitas lain yang berisiko menimbulkan paparan virus.
“Nanti dari puskesmas akan dilakukan screening atau asesmen terlebih dahulu. Ditanya apakah ada kontak dengan tikus atau kotorannya, habis membersihkan gudang, atau tinggal di area yang banyak tikus kemudian tiba-tiba mengalami demam tinggi,” terangnya.
Tri Tuti menegaskan, langkah kewaspadaan tersebut penting dilakukan guna mendeteksi potensi penyakit sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila ditemukan indikasi tertentu.
Meski belum ada laporan kasus hantavirus di Sukoharjo, DKK tetap meminta masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya.
Warga juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mencurigakan.
“Screening dan kewaspadaan tetap diberlakukan. Meskipun sampai saat ini berdasarkan laporan yang ada, Kabupaten Sukoharjo belum menemukan kasus hantavirus,” pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Petani-melakukan-pembasmian-tikus.jpg)