Dugaan Pelecehan Seksual Dosen UIN

Curhat Korban Pelecehan Seksual UIN RM Said Solo: Tak Didampingi Kampus, Pengobatan Dibayar Pribadi

Korban pelecehan seksual dosen UIN RM Said berinisial P mengaku harus menanggung biaya pribadi untuk pengobatannya.

Tayang:
TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar
DUGAAN PELECEHAN - Suasana kampus UIN Raden Mas Said Surakarta, Rabu (20/5/2026). Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Raden Mas Said Surakarta menyatakan sikap tegas terkait dugaan pelecehan seksual yang diduga dilakukan seorang oknum dosen terhadap mantan mahasiswi di lingkungan kampus. 
Ringkasan Berita:
  • Alumnus UIN Raden Mas Said Surakarta berinisial P mengaku menanggung sendiri biaya pengobatan psikologis pasca dugaan pelecehan seksual oleh oknum dosen mencuat. 
  • P menyebut dampak kasus tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi mental, tetapi juga membuatnya harus menjalani proses pemulihan psikologis secara mandiri sejak berani membuka dugaan pelecehan yang dialaminya saat masih kuliah.
  • Korban mempertanyakan pernyataan resmi kampus terkait pendampingan psikologis. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Perempuan berinisial P, alumnus sekaligus korban dugaan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh oknum dosen di UIN Raden Mas Said Surakarta, mengaku harus menanggung sendiri biaya pengobatan psikologis yang dijalaninya pasca kasus tersebut mencuat.

Korban menyebut dampak yang dialaminya tidak hanya memengaruhi kondisi mental, tetapi juga memaksanya menjalani serangkaian pemeriksaan hingga perawatan psikiater secara mandiri tanpa bantuan dari pihak kampus.

Saat ini, P masih menjalani proses pemulihan akibat tekanan psikologis yang dirasakannya setelah memberanikan diri membuka dugaan pelecehan seksual yang ia alami saat masih menjadi mahasiswa.

Bahkan, korban mengatakan seluruh proses pengobatan dilakukan menggunakan biaya pribadi.

DUGAAN PELECEHAN - Suasana kampus UIN Raden Mas Said Surakarta, Rabu (20/5/2026). Korban dugaan pelecehan seksual oleh oknum dosen di UIN Raden Mas Said Surakarta mengaku hingga kini masih menjalani perawatan psikiater akibat dampak psikologis yang dialaminya. Di tengah proses tersebut, korban juga mengklaim belum mendapat pendampingan langsung dari Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) kampus.
DUGAAN PELECEHAN - Suasana kampus UIN Raden Mas Said Surakarta, Rabu (20/5/2026). Korban dugaan pelecehan seksual oleh oknum dosen di UIN Raden Mas Said Surakarta mengaku hingga kini masih menjalani perawatan psikiater akibat dampak psikologis yang dialaminya. Di tengah proses tersebut, korban juga mengklaim belum mendapat pendampingan langsung dari Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) kampus. (TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar)

Tak Ada Pendampingan

Ia mengaku mulai menjalani konsultasi dengan psikiater hingga pemeriksaan lanjutan di rumah sakit besar tanpa pendampingan maupun bantuan dari pihak universitas.

“Di sini saya pengobatan sendiri, dari psikiater biasa sampai ditindaklanjuti ke rumah sakit besar pun itu saya yang berjalan sendiri tanpa pendampingan dari pihak kampus,” ujarnya, Jumat (22/5/2026).

Baca juga: Kasus Pembuangan Bayi di Solo, Latar Belakang Masa Kecil Pelaku Diduga Pengaruhi Kondisi Psikologis

Menurut P, kondisi tersebut membuat dirinya merasa berjuang sendirian menghadapi dampak psikologis dari kasus yang kini menjadi perhatian publik tersebut.

Ia juga mempertanyakan pernyataan resmi kampus yang sebelumnya menyebut adanya pendampingan psikologis terhadap korban.

“Pihak SEMA pun sudah kesel mengenai press release kemarin, kok bohong ke publik mengenai pendampingan psikologis,” katanya. (*) 

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved