Makam di Boyolali Diekshumasi
Ini Kandungan Sate Ayam yang Tewaskan Seorang Perempuan di Boyolali, Dikirim Menantu Sendiri
Sebagai informasi, racun tikus memang masih diperjualbelikan secara bebas di Solo Raya, di warung-warung kecil bahkan pasar.
Penulis: Tri Widodo | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Polisi mengungkap tersangka Purwadi Wahyudi membeli sate dan lontong di Kartasura, mencampurnya dengan racun tikus, lalu mengirimkannya kepada korban dalam kasus sate maut di Ngemplak, Boyolali.
- Untuk mengelabui penyelidikan, tersangka menggunakan akun Gosend atas nama adik iparnya dan meminta kurir menyebut kiriman berasal dari "Mbak'e".
- Modus itu memunculkan kecurigaan karena pengirim yang ditemui kurir adalah laki-laki.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Kasus sate maut di Dukuh Jantir, Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, terus terkuak.
Polisi mengungkap rangkaian modus yang dilakukan tersangka Purwadi Wahyudi untuk mengelabui pengiriman sate beracun kepada korban.
Berdasarkan hasil penyelidikan, tersangka terlebih dahulu membeli sate ayam dan lontong di wilayah Kartasura.
Baca juga: Sejarah Kirab Malam 1 Suro di Solo : Berawal Pakubuwono X Berkeliling Tiap Selasa dan Jumat Kliwon
Setelah itu, sate tersebut dicampur dengan racun tikus sebelum dikirim kepada korban.
Sebagai informasi, racun tikus memang masih diperjualbelikan secara bebas di Solo Raya, di warung-warung kecil bahkan pasar.
Biasanya dijual dalam kemasan botol maupun sachet.
Padahal, racun tikus (rodentisida) mengandung bahan kimia sangat beracun yang umumnya dikelompokkan menjadi dua jenis utama, yakni antikoagulan (seperti brodifakum dan bromadiolon) dan non-antikoagulan (seperti zinc phosphide). Bahan-bahan ini bekerja dengan cara mengganggu pembekuan darah atau merusak organ dalam dan sistem saraf.
Sementara itu, untuk menghilangkan jejak, tersangka mengirimkan paket sate dari sekitar warung sate Madura di Desa Kismoyoso, Kecamatan Ngemplak, yang lokasinya tidak jauh dari rumah adik iparnya.
“Tersangka PW menggunakan aplikasi Gosend untuk mengirim sate kepada korban dengan menggunakan nama akun ‘Luriyanti Putri’ dengan foto saksi LP yang merupakan adik ipar tersangka,” kata Kasat Reskrim Polres Boyolali, AKP Indra Wira Saputra.
Tak hanya itu, tersangka juga berpesan kepada pengemudi Gosend agar menyampaikan kepada penerima bahwa kiriman tersebut berasal dari "Mbak'e".
Baca juga: Delapan SPPG di Solo Kena Suspend, Empat Sudah Beroperasi, Sisanya Tunggu Perbaikan IPAL
Sempat Ada Kecurigaan
Namun, upaya tersebut justru memunculkan kecurigaan.
Saksi AM yang bertugas sebagai pengemudi ojek online mengaku pengirim yang ditemuinya adalah seorang laki-laki, bukan perempuan sebagaimana identitas yang tercantum pada akun pemesan.
Saat dikonfirmasi terkait hal itu, tersangka berdalih bahwa dirinya merupakan anak dari korban.
| Modus Tersangka Sate Beracun di Boyolali, Pakai Akun Ipar dan Ganti Bungkus untuk HIlangkan Jejak |
|
|---|
| Akhir dari Kasus Sate Maut Boyolali, Menantu Korban Dijerat Pasal Pembunuhan Berencana |
|
|---|
| Di Balik Sate Maut Boyolali, Ada Menantu yang Sakit Hati Hingga Racun Tikus Jadi Senjata Pembunuh |
|
|---|
| Siasat Menantu Kirim Sate Beracun ke Ibu Mertua di Boyolali, Pakai Akun Palsu dan Tipu Driver Ojol |
|
|---|
| Kasus Sate Maut Boyolali, Pelaku Akui Campur Makanan dengan Racun Tikus, Kirim ke Korban Lewat Ojol |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Sate-Ayam-Pak-Kabul-di-Jalan-Salak-3-Lingkungan-Gerdu-Keluraha.jpg)