Gunung Merbabu

Pernah Dihantam Kebakaran Hebat, Gunung Merbabu Masih Jadi Habitat 37 Ekor Surili Jawa

Primata khas Merbabu terpantau masih ada hingga sekarang. Ia adalah Surili Jawa (Presbytis fredericae).

Tayang:
Penulis: Tri Widodo | Editor: Ryantono Puji Santoso
TribunSolo.com/Istimewa
PRIMATA KHAS. Primata khas penghuni Merbabu, Surili Jawa masih terjaga di gunung Merbabu. Hewan ini menjadi indikator ekosistem di Gunung Merbabu. (istimewa) 
Ringkasan Berita:
  • Populasi Surili Jawa (Presbytis fredericae) terpantau 37 individu di Gunung Merbabu, dengan 16 individu di resort Selo.
  • Monitoring 2025 menunjukkan struktur populasi lengkap (dewasa, remaja, anakan) menandakan reproduksi alami berjalan baik.
  • Pemulihan vegetasi pasca kebakaran 2019, terutama kemlandingan gunung, mendukung ketersediaan pakan dan keberlanjutan habitat.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo 

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Primata khas penghuni Merbabu, Surili Jawa (Presbytis fredericae), terpantau masih terjaga eksistensinya.

Meski kawasan tersebut sempat dilanda kebakaran hutan hebat beberapa tahun lalu, habitat asli primata endemik ini nyatanya masih mampu bertahan dan mendukung keberlangsungan hidup mereka.

Hasil monitoring Balai Taman Nasional Gunung Merbabu tahun 2025 menjadi bukti nyata. Petugas mencatat ada 37 individu Surili Jawa yang kini tersebar di titik-titik habitat penting di kawasan Gunung Merbabu.

Di area seluas 96 hektar tersebut, petugas resort Selo mendapati 16 individu Surili Jawa.

Komposisi populasi yang lengkap mulai dari individu dewasa, remaja, hingga anakan.

Hal ini menandai bahwa proses reproduksi berjalan alami dan populasi primata khas Merbabu ini terus berkembang.

Surili Jawa 34
PRIMATA KHAS. Primata khas penghuni Merbabu, Surili Jawa masih terjaga di gunung Merbabu. Hewan ini menjadi indikator ekosistem di Gunung Merbabu. (istimewa)

Indikator Kesehatan Ekosistem

Kepala Balai TN Gunung Merbabu, Anggit Haryoso, menegaskan bahwa primata ini merupakan indikator penting kesehatan ekosistem kawasan konservasi.

“Satwa liar hanya dapat bertahan apabila habitatnya tetap terjaga. Temuan ini menjadi sinyal positif bahwa upaya perlindungan kawasan dan pemulihan ekosistem di Gunung Merbabu berjalan dengan baik,” ujar Anggit.

Keberhasilan menjaga primata khas ini tidak lepas dari pemulihan vegetasi pakan pasca insiden kebakaran hutan tahun 2019.

Baca juga: Rekomendasi Wisata di Boyolali Jateng : Bukit Sanjaya Tawarkan Latar Megah Merapi dan Merbabu

Tanaman kemlandingan gunung (Albizia lophanta) yang sempat terdampak kini telah tumbuh kembali dan mendominasi habitat primata.

Vegetasi tersebut menjadi sumber pakan utama bagi Surili Jawa sekaligus tempat bernaung bagi primata lainnya seperti Lutung Budeng.

“Menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi kawasan, tetapi juga memastikan satwa liar tetap memiliki rumah yang aman untuk hidup dan berkembang,” tegas Anggit.

Balai TN Gunung Merbabu berkomitmen untuk terus memperketat pengawasan dan menjaga ekosistem agar primata endemik tersebut tetap lestari bagi generasi mendatang. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved