Fakta Menarik Tentang Solo

Mitos Imlek di Solo, Kenapa Selalu Turun Hujan dan Apa Maknanya?

Hujan yang turun saat Imlek diyakini membawa energi positif, membersihkan rumah dan hati, serta menandai awal yang baru.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM/RYANTONO PUJI SANTOSO
ORNAMEN IMLEK - Lampion Pasar Gede yang dipasang di sepanjang koridor Jalan jenderal Sudirman kawasan Pasar Gede Solo, Jumat (17/1/2020). Inilah makna hujan di Imlek, baik secara mitos maupun sains. 

Ringkasan Berita:
  • Hujan saat Imlek di Solo dianggap membawa berkah, rezeki, dan awal baru; tradisi ini diwariskan dari nenek moyang dan menambah keakraban keluarga.
  • Secara ilmiah, hujan terjadi karena Imlek jatuh di Januari–Februari, puncak musim hujan Indonesia, ditambah pengaruh kalender lunisolar.
  • Fenomena ini memadukan budaya dan alam; hujan simbol harapan dan rezeki, namun inti Imlek tetap syukur, keluarga, dan semangat baru.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Solo, Jawa Tengah, selalu identik dengan lampion merah, angpao, barongsai, dan satu fenomena yang hampir tak pernah absen: hujan.

Bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia, turunnya hujan saat Imlek sering dianggap sebagai berkah dan pertanda kemakmuran.

Namun, apakah ini sekadar kebetulan atau ada makna yang lebih dalam?

Baca juga: Mitos Gunung Kemukus di Sragen : Ini Legenda Pangeran Samudro & Nyai Ontrowulan yang Sebenarnya

Simbolisme Hujan dalam Tradisi Tionghoa

Dalam tradisi Tionghoa, air memiliki makna penting sebagai simbol kehidupan, rezeki, dan kelimpahan.

Hujan yang turun saat Imlek diyakini membawa energi positif, membersihkan rumah dan hati, serta menandai awal yang baru.

Di beberapa daerah, seperti Jawa, Kalimantan, dan Sumatra, hujan saat Imlek dianggap sebagai berkah dari leluhur.

Banyak masyarakat memanfaatkan momen ini untuk membersihkan rumah atau altar sembahyang, percaya bahwa air hujan membawa keberuntungan dan awal yang baik untuk tahun baru.

Kerangka besi gerbang Imlek 2023 telah berdiri di sisi timur Titik Nol Kota Solo.
IMLEK DI SOLO - Kerangka besi gerbang Imlek di sisi timur Titik Nol Kota Solo. (TribunSolo.co)

Suasana ini juga menambah keakraban, terutama saat keluarga berkumpul di malam Reunion Dinner.

Baca juga: Perayaan Imlek 2026 di Kota Solo Bakal Meriah, Ribuan Lampion Sudah Dipasang di Kawasan Pasar Gede

Penjelasan Ilmiah: Mengapa Imlek Sering Hujan

Secara ilmiah, hujan saat Imlek dapat dijelaskan oleh kondisi geografis dan kalender.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Januari hingga Februari adalah puncak musim hujan di Indonesia.

Angin muson Asia membawa uap air melimpah, sehingga curah hujan meningkat drastis.

Selain itu, Imlek menggunakan kalender lunisolar, yang menggabungkan fase bulan dan posisi matahari.

Tanggal Imlek selalu jatuh di rentang Januari–Februari, yang bertepatan dengan puncak musim hujan di wilayah tropis.

Berbeda dengan Tiongkok, di mana Imlek menandai datangnya musim semi dan sering disertai salju, bukan hujan.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved