Perebutan Tahta Keraton Solo

Harapan Abdi Dalem Keraton Solo: Keraton Rukun dan Membawa Ketenteraman

Abdi Dalem Keraton Solo berharap agar Keraton bisa selalu damai. Mereka selama ini ikhlas mengabdi.

Tayang:
TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin
ILUSTRASI. Suasana Keraton Kasunanan Surakarta pada Senin (2/3/2026). Abdi Dalem berharap Keraton Solo selalu rukun. 
Ringkasan Berita:
  • Abdi dalem Keraton Solo menyampaikan harapan sederhana saat pembagian 1.000 paket sembako dan uang oleh PB XIV Purboyo.
  • Wiharni (69), abdi dalem, mengaku hanya menerima gaji Rp150 ribu per bulan, namun tetap ikhlas mengabdi.
  • Ia berharap keraton kembali rukun, tenteram, dan mengangkat marwah sebagai simbol kebudayaan adiluhung Jawa.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Abdi Dalem Keraton Solo memiliki harapan sederhana. 

Ini mereka lontarkan saat momen Pakubuwono XIV Purboyo membagikan sekitar 1.000 paket sembako dan uang kepada abdi dalem.

Pembagian ini dilakukan pada Selasa (17/3/2026).

Abdi dalem Keraton Solo, Wiharni (69) atau Nyai Lurah Harso Pusoko mengaku hanya mendapat Rp150 ribu dari Keraton Solo

Itu adalah gaji per bulannya. 

Meski begitu, ia ikhlas mengabdi di Keraton Kasunanan Surakarta.

Dengan sedikit terisak, ia berharap keraton bisa rukun dan membawa ketenteraman.

Dengan begitu, keraton bisa kembali memunculkan marwah sebagai simbol kebudayaan adiluhung peradaban Jawa.

“Sukanya semuanya baik-baik saja. Mbah pengennya semua baik, tentrem ayem loh jinawi. Semua bisa mimpin keraton yang baik. Semua bisa yang baik. Semua suka. Supaya ke depan baik. Supaya pamornya keraton moncer lagi,” ungkapnya saat ditemui di Sasana Hadi, Selasa (17/3/2026).

Ia pun mengaku ikhlas mengabdikan jiwa dan raganya untuk keraton meski mendapat bayaran tak seberapa.

Ia sendiri menjadi abdi dalem di Ndalem Ageng.

“Mbah lahir batin ngabdi, tidak hanya raganya, jiwanya. Saya di Ndalem Ageng, tempat pusaka. Saya Rp150 ribu per bulan,” jelasnya.

MENGABDI DI KERATON SOLO. Seorang abdi dalem Keraton Solo, Wiharni (69) atau Nyai Lurah Harso Pusoko. Dia menyebut hanya digaji Rp150 ribu per bulan.
MENGABDI DI KERATON SOLO. Seorang abdi dalem Keraton Solo, Wiharni (69) atau Nyai Lurah Harso Pusoko. Dia menyebut hanya digaji Rp150 ribu per bulan. (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

30 Tahun Mengabdi

Ia telah mengabdi di keraton sekitar 30 tahun.

Saat itu, Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi, Joop Ave, meresmikan Sasana Hondrowino yang baru saja selesai dibangun.

“Saya jadi abdi dalem sudah lama. Jadi gusti-gusti itu kecil-kecil mbah tahu. Saya mempunyai suami, berumah tangga, anak-anak sudah besar, saya ngabdi dalem lagi. Karena orang tua saya abdi dalem semua, jadi saya meneruskan. Saya masuk abdi dalem Hondrowino mulai dibangun. Saat pelestarian, Pak Menteri Joop Ave meresmikan, saya resmi jadi abdi dalem, PB XII,” jelas Wiharni.

Baca juga: Terungkap, PB XIV Hangabehi Absen Malam Selikuran Keraton Solo Gegara Flu Biasa : Bukan Covid-19

Juru Bicara Purboyo, KPA Singonagoro, menjelaskan gaji abdi dalem dan sentono dalem memang bervariasi tergantung dari pangkat dan jabatannya, dengan besaran ratusan ribu hingga sekitar Rp2 juta.

“Kalau untuk besarannya bervariasi sesuai job dan deskripsinya, sama dengan yang sudah ditetapkan oleh pengageng yang membidangi. Besarannya tidak sama. Rate yang paling tinggi Rp2 juta untuk gusti pangeran, tapi bervariasi tidak sama. Ada ketentuannya. Yang mengatur nilai ada yang membidangi di bidang keuangan,” jelasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved