Kuliner Solo

Kisah Dramatis Dibalik Asal Usul Cakwe yang Disebut Janggelut di Kota Solo

Dari Tiongkok Selatan, cakwe menyebar ke wilayah Asia. Para pedagang Tionghoa memperkenalkan cakwe ke Indonesia pada awal abad ke-20.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
Tangkap Layar/GoFood
Kalau bicara jajanan kaki lima di Solo, ada satu camilan yang selalu punya tempat di hati warga: cakwe (sering juga disebut janggelut di beberapa percakapan lokal). 

Ringkasan Berita:
  • Cakwe, jajanan legendaris Solo atau “janggelut”, memiliki sejarah panjang dari Tiongkok dan berasal dari protes rakyat atas fitnah terhadap Jenderal Yue Fei pada era Dinasti Song.
  • Cakwe menyebar ke Indonesia sejak awal abad ke-20 dan kini memiliki banyak variasi penyajian, termasuk cakwe susu kedelai khas Solo.
  • Di Solo, Cakwe Hoo berdiri sejak 1980 dan tetap populer, menjual cakwe, bolang-baling, dan gembukan dengan harga terjangkau.

 

TRIBUNSOLO.COM - Kalau bicara jajanan kaki lima di Solo, ada satu camilan yang selalu punya tempat di hati warga: cakwe (sering juga disebut janggelut di beberapa percakapan lokal).

Gorengan panjang bertekstur renyah di luar, empuk di dalam ini bukan sekadar makanan, tapi bagian dari nostalgia kota.

Di antara banyak penjual, ada beberapa yang sudah melegenda dan jadi langganan lintas generasi.

Namun, di balik kelezatan cakwe, ternyata tersimpan sejarah panjang dan legenda yang menarik.

Berikut kisahnya:

Jejak Asal Usul Cakwe

Cakwe (Hanzi: 油条, Hanyu Pinyin: Yóutiáo) merupakan penganan tradisional Tionghoa.

Dalam dialek Hokkian, nama cakwe berasal dari kata cahkwe atau you zha gui yang berarti “hantu yang digoreng”.

Nama ini berkaitan dengan legenda kematian Jenderal Yue Fei pada masa Dinasti Song abad ke-12.

Yue Fei dikenal sebagai jenderal pemberani yang berhasil memukul mundur Dinasti Jin.

Namun keberhasilannya justru memicu kecemburuan dan intrik politik dari Perdana Menteri Qin Hui.

Dengan tuduhan palsu, Qin Hui menghasut Kaisar Gaozong untuk menghukum Yue Fei hingga akhirnya sang jenderal dijatuhi hukuman mati pada tahun 1163.

Kematian Yue Fei memicu kemarahan rakyat.

Seorang pedagang kecil bernama Li Si (atau dalam versi lain Wang Xiaoer) kemudian membuat dua batang adonan tepung yang digabung menyerupai sosok manusia saling membelakangi, melambangkan Qin Hui dan istrinya.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved