Idul Adha 2026

Dampak Geopolitik dan Pelemahan Rupiah, Okupansi Hotel di Solo Lesu saat Libur Idul Adha

Tingkat hunian hotel di Kota Solo selama libur panjang Idul Adha tak menunjukkan peningkatan signifikan dan cenderung stagnan di kisaran 40–50 persen.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Tri Widodo
TribunSolo.com/Asep Abdullah
OKUPANSI : Tingkat hunian hotel di Kota Solo selama libur panjang Idul Adha tak menunjukkan peningkatan signifikan dan cenderung stagnan di kisaran 40–50 persen. Humas BPC PHRI Solo, Wening Damayanti, menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh situasi ekonomi global 
Ringkasan Berita:
  • Tingkat hunian hotel di Kota Solo selama libur panjang Idul Adha tercatat stagnan di kisaran 40–50 persen, jauh di bawah kondisi normal saat libur panjang. 
  • Humas BPC PHRI Solo, Wening Damayanti, menyebut penurunan ini dipengaruhi faktor ekonomi global seperti ketegangan geopolitik dan pelemahan rupiah.
  • PHRI menilai kondisi ini membuat pola kunjungan wisata sulit diprediksi, berbeda dengan masa normal ketika okupansi hotel saat libur panjang bisa mencapai 90–98 persen bahkan hingga penuh.

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Tingkat hunian hotel di Kota Solo selama libur panjang Idul Adha tak menunjukkan peningkatan signifikan dan cenderung stagnan di kisaran 40–50 persen.

Humas BPC PHRI Solo, Wening Damayanti, menyebut kondisi tersebut dipengaruhi oleh situasi ekonomi global, termasuk dampak geopolitik dan pelemahan nilai tukar rupiah yang membuat masyarakat lebih menahan pengeluaran.

“Kalau periode Idul Adha kemarin tidak ada kenaikan signifikan, masih stagnan di 40–50 persen. Tahun-tahun terakhir memang turun dibanding sebelumnya,” ujarnya, Minggu (31/5/2026).

Baca juga: Rendahnya Okupansi Hotel Solo saat Lebaran 2026 Sudah Diprediksi, Sampai Pilih Tak Naikkan Harga

Baca juga: Libur Tahun Baru 2026, Okupansi Villa dan Glamping di Karanganyar Capai 90 Persen

Ia menjelaskan, kenaikan okupansi baru terlihat menjelang akhir pekan, terutama pada Jumat dan Sabtu, seiring tambahan hari libur nasional.

Pada periode tersebut, tingkat hunian sejumlah hotel bisa mencapai 80–85 persen, meski tidak merata di semua properti.

Namun demikian, kondisi tersebut belum mampu mengangkat performa industri perhotelan secara keseluruhan, karena masih ada hotel yang tidak mendapatkan dampak signifikan dari lonjakan libur panjang.

Wening juga mengungkapkan bahwa tekanan ekonomi global, termasuk ketegangan geopolitik, turut memengaruhi seluruh segmen pasar hospitality, mulai dari pemerintah, korporasi, hingga wisata keluarga.

“Semuanya ikut terdampak, tidak hanya market government, tapi juga corporate dan family juga menahan pengeluaran,” katanya.

Dampak tersebut tidak hanya dirasakan pada sektor kamar hotel, tetapi juga pada layanan makanan dan minuman (food and beverage), termasuk restoran yang mengalami penurunan kunjungan.

Menurutnya, pola kunjungan wisatawan saat libur panjang tahun ini juga tidak stabil dan sulit diprediksi.

Bahkan, tren serupa telah terjadi sejak libur Idul Fitri, di mana okupansi baru meningkat setelah hari-hari awal libur.

Padahal dalam kondisi normal, tingkat hunian hotel di Solo saat libur panjang bisa mencapai 90–98 persen dan bahkan sering terjadi penolakan tamu karena keterbatasan kamar. (*) 

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved