Sejarah di Kota Solo

Sejarah Kirab Malam 1 Suro di Solo : Berawal Pakubuwono X Berkeliling Tiap Selasa dan Jumat Kliwon

Tradisi tersebut lebih menekankan pada perenungan diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memohon keselamatan untuk kehidupan.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/Andreas Chris
MALAM 1 SURO - Sebanyak 5 Kebo Bule dipilih menjadi cucuk lampah atau penunjuk jalan dalam Kirab Pusaka Malam 1 Sura di Keraton Kasunanan Solo, Kamis (26/6/2025) malam. Beginilah sejarah Kirab Malam 1 Suro di Solo, Jawa Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • Kirab Malam 1 Suro di Solo ternyata baru dimulai pada 1974 atas permintaan Presiden ke-2 RI, Soeharto. Sebelumnya, malam 1 Suro lebih banyak diisi tirakat, salat, dan semedi.
  • Tradisi ini berakar dari kebiasaan Pakubuwono X berkeliling Baluwarti. Ikon kirab adalah kebo bule Kyai Slamet yang dipercaya membawa keselamatan dan keberkahan.
  • Kirab disaksikan ribuan warga, peserta mengenakan pakaian hitam dan menjalani tapa bisu sebagai simbol introspeksi.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kirab Malam 1 Suro merupakan salah satu tradisi budaya paling ikonik di Kota Solo yang selalu menyedot perhatian masyarakat setiap tahunnya.

Ribuan warga memadati jalan-jalan yang dilalui rombongan kirab untuk menyaksikan prosesi sakral yang digelar oleh Keraton Kasunanan Surakarta maupun Pura Mangkunegaran dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa.

Selama ini banyak masyarakat menganggap kirab malam 1 Suro sebagai tradisi turun-temurun yang telah berlangsung sejak era Kerajaan Mataram Islam.

Baca juga: Delapan SPPG di Solo Kena Suspend, Empat Sudah Beroperasi, Sisanya Tunggu Perbaikan IPAL

Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa prosesi kirab pusaka yang dikenal saat ini sebenarnya merupakan tradisi yang relatif baru dan mulai digelar pada tahun 1974.

Awalnya Malam 1 Suro Diisi Tirakat dan Semedi

Pakar Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tundjung Sutirta, menjelaskan bahwa momentum penting dalam tradisi masyarakat Jawa sebenarnya adalah malam 1 Suro itu sendiri, bukan prosesi kirab yang kini menjadi pusat perhatian.

Menurutnya, sebelum tahun 1974 masyarakat Jawa, termasuk lingkungan keraton, lebih banyak memperingati malam pergantian tahun Jawa dengan berbagai laku spiritual seperti tirakat, berdoa, salat, hingga semedi.

Tidak ada tradisi kirab pusaka maupun tradisi mengelilingi benteng keraton seperti yang dikenal saat ini.

"Momentum utamanya adalah malam 1 Suro. Kirab sebenarnya merupakan tradisi yang baru dan bukan bagian dari tradisi asli Mataram Islam," ujar Tundjung.

Baca juga: Panduan Wisata di Solo Raya Naik KA Mataram : Jajal Destinasi Seru di Klaten dan Solo Berikut Ini

Tradisi tersebut lebih menekankan pada perenungan diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memohon keselamatan untuk kehidupan di tahun yang akan datang.

MALAM 1 SURO - Sebanyak 17 pusaka diarak dalam tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro yang digelar Keraton Kasunanan Solo, Kamis (26/6/2025) malam. Belasan pusaka tersebut didominasi oleh tombak kepunyaan SISKS Pakubuwono (PB) XIII.
MALAM 1 SURO - Sebanyak 17 pusaka diarak dalam tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro yang digelar Keraton Kasunanan Solo, Kamis (26/6/2025) malam. Belasan pusaka tersebut didominasi oleh tombak kepunyaan SISKS Pakubuwono (PB) XIII. (TribunSolo.com/ Andreas Chris)

Berawal dari Permintaan Presiden Soeharto

Tundjung mengungkapkan, tradisi Kirab Pusaka Malam 1 Suro yang saat ini rutin dilaksanakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran bermula dari permintaan Presiden Republik Indonesia ke-2, Soeharto.

Pada tahun 1974, Soeharto yang dikenal memiliki kedekatan dengan budaya Jawa meminta kedua institusi budaya tersebut menggelar ritual kirab pusaka sebagai bentuk doa dan harapan agar bangsa Indonesia terhindar dari berbagai bencana dan marabahaya.

Menurut Tundjung, Soeharto memandang ritual budaya Jawa sebagai salah satu bentuk laku spiritual yang memiliki nilai filosofi mendalam.

Permintaan tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk kirab pusaka yang membawa berbagai pusaka keraton mengelilingi kawasan tertentu sebagai simbol permohonan keselamatan bagi bangsa dan negara.

Baca juga: Jadwal KRL Solo-Jogja Hari Ini Selasa 9 Juni 2026 : Keberangkatan dari Stasiun Palur Karanganyar

Sejak saat itu, tradisi kirab terus berkembang dan menjadi agenda budaya tahunan yang selalu dinantikan masyarakat.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved