Kirab Malam 1 Suro
Dualisme Keraton Solo Belum Usai, Pemerhati Cagar Budaya : Masing-masing Kubu Masih Terjebak Ego
Dualisme Keraton Solo dinilai belum berakhir karena masing-masing kubu masih bertahan pada keinginannya.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Putradi Pamungkas
Ringkasan Berita:
- Dualisme Keraton Kasunanan Surakarta kembali menjadi sorotan usai ketegangan menjelang Kirab Malam 1 Suro dan perbedaan sikap dua kubu terkait pengeluaran pusaka.
- Pemerhati cagar budaya Bambang Ary Wibowo menilai masing-masing kubu masih terjebak ego dan keinginan sendiri sehingga belum tercapai kesepakatan.
- Bambang Ary menyebut waktu dan leluhur yang akan menentukan arah kepemimpinan Keraton Solo, sementara konflik internal dinilai berpotensi menggerus wibawa keraton di mata publik.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dualisme Keraton Kasunanan Surakarta kembali menjadi sorotan setelah muncul ketegangan menjelang Kirab Malam 1 Suro di Sasana Parasdya Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (16/6/2026).
Pemerhati cagar budaya Bambang Ary Wibowo menilai kondisi tersebut terjadi karena masing-masing kubu masih terjebak pada keinginan dan egonya sendiri.
Menurut Bambang Ary, situasi yang terus berulang ini justru membuat persoalan internal Keraton menjadi tontonan publik dan berpotensi menggerus wibawa lembaga budaya tersebut.
“Kalau saya seperti itu mohon maaf saja sementara baru jadi tontonan ditonton,” ungkapnya saat dihubungi, Rabu (17/6/2026).
Masing-masing Kubu Dinilai Belum Menemukan Titik Temu
Pada pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro tahun ini, Pakubuwono XIV Hangabehi mengeluarkan 15 pusaka untuk dikirab.
Pusaka tersebut terdiri atas 14 tombak dan satu keris.
Sinuhun Hangabehi juga mengawal langsung prosesi keluarnya pusaka sebelum dikirab bersama Kebo Bule.
Sementara itu, Pakubuwono XIV Purboyo memilih tidak mengeluarkan pusaka dalam rangkaian kirab tersebut.
Menanggapi kondisi tersebut, Bambang Ary menilai kedua kubu masih berpegang pada keinginan masing-masing sehingga tidak tercapai kesepakatan.
“Harusnya kan yang seperti itu ya tidak dijalankan tapi kan yang terjadi masing masing ego kan yang dikeluarkan,” tuturnya.
Baca juga: Terungkap! Adu Mulut Dua Kubu Keraton Solo Jelang Kirab Malam 1 Suro Dipicu Persoalan Gending
Waktu dan Leluhur Dinilai Akan Menentukan
Lebih lanjut, Bambang Ary berpandangan bahwa waktu akan menjadi penentu siapa yang nantinya layak memegang otoritas tertinggi di Keraton Kasunanan Surakarta.
Menurut dia, keputusan Pakubuwono XIV Purboyo yang tidak menggelar kirab tidak perlu dipersoalkan secara berlebihan.
Ia menilai proses alam dan leluhur akan memberikan jawabannya sendiri.
“Kalau seandainya kemudian seorang Purboyo tidak melakukan kirab supaya tidak terjadi dualisme, ya sudah ya gapapa enggak apa apa. Pertanyaannya apa yang akan terjadi biar alam nantinya akan menentukan dan leluhur yang akan menentukan bukan kita,” jelasnya.
(*)
Kirab Malam 1 Suro
Kota Solo
Keraton Kasunanan Surakarta
PB XIV Purbaya
PB XIV Hangabehi
Bambang Ary Wibowo
| Kirab Malam 1 Suro Bawa Berkah, Lestari Beralih dari Jual Mainan ke Samir |
|
|---|
| Ketegangan Jelang Suro, Pemerhati Soroti Wibawa yang Tergerus di Tengah Dualisme Tak Berkesudahan |
|
|---|
| Momen Kirab Suro 2026, Okupansi Hotel di Solo Naik, Libur Muharram Dorong Lonjakan Hunian |
|
|---|
| Alasan Keamanan, Kubu Purboyo Batal Kirabkan Pusaka pada Detik-detik Terakhir Malam 1 Suro di Solo |
|
|---|
| Momen Gusti Bhre Lempar Udik-udik ke Warga Pasca Kirab Malam 1 Suro di Puro Mangkunegaran Solo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/adu-mulut-jelang-Kirab-malam-1-Suro.jpg)