TribunSolo/
Home »

Solo

Seniman Nanang Yulianto Hadirkan Perjalanan Spiritual Hidup di Pameran Memento Mori

Selama ini dirinya membuat karya lainnya dengan tema konsumerisme, dunia kapitalisme hingga kritik kepada dunia-dunia yang sifatnya material

Seniman Nanang Yulianto Hadirkan Perjalanan Spiritual Hidup di Pameran Memento Mori
TRIBUNSOLO.COM/EKA FITRIANI
Suasana Pameran karya bertema Memento Mori di Balai Soedjatmoko, Solo, Sabtu (16/12/2017) 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Eka Fitriani

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Seniman asal Magetan, Nanang Yulianto terinspirasi oleh perjalanan spiritual hidupnya serta orang-orang terdekat saat membuat karya-karyanya.

Hal tersebut diungkapkan di pameran karya nya yang berjudul Memento Mori di Balai Soedjatmoko.

"Karya saya disini ini merupakan perjalanan hidup baik perjalanan hidup saya secara pribadi maupun sosial budaya orang-orang dekat saya," katanya Sabtu (16/12/2017) sore.

"Mereka menginspirasi saya untuk menghadirkan karya yang sifatnya agak religius, agak erat dengan spiritualitas," ujarnya.

Selama ini dirinya membuat karya lainnya dengan tema konsumerisme, dunia kapitalisme hingga kritik kepada dunia-dunia yang sifatnya material.

Baca: Tak Kapok Meski Nyaris Kehilangan Nyawa, Stuntman Demian Ingin Death Drop Sekali Lagi

Terdapat belasan karya baik 2 dimensi atau 3 dimensi yang dipamerkan di Balai Soedjatmoko.

Tema Memento Mori ini memang sengaja diambil untuk mengekspresikan ruang perjalanan sang kreator untuk berkomunikasi dan sebagai refleksi bagi perjalanan batinnya.

Nanang membagi tata ruangan pameran menjadi 3 yang mengisyaratkan tiga perjalanan.

Ruang awal diisi dengan karya instalasi dengan nilai eklektik Jawa yang berupa seperangkat kendil dari gerabah dan hamparan tanah.

Baca: Berduka, Sophia Latjuba Kehilangan Sosok yang Dicintainya. Begini Pesan Pilu yang Ditulisnya

Lalu pada ruang tengah mengisyaratkan perjalanan cinta dan citanya dengan karya dominan abu-abu, hitam, dan tiga panel multipleks yang ditancapi ratusan potongan cabang kayu jati.

Di ruang akhir, muncul karya-karya bernuansa hitam dan putih yang cukup puitis berjudul Hitam adalah Putih, putih adalah hitam.

Pameran ini diadakan mulai tanggal 14-19 Desember 2017. (*)

Penulis: Eka Fitriani
Editor: Putradi Pamungkas
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help