Pengembangan Hunian Sub Komunal Risha di Semanggi Solo, Masyarakat Dapat Mandiri Kelola Limbah

Kawasan hunian yang terdiri dari 56 unit ini juga dilengkapi dengan adanya pengolahan limbah rumah tangga secara mandiri.

Pengembangan Hunian Sub Komunal Risha di Semanggi Solo, Masyarakat Dapat Mandiri Kelola Limbah
TribunSolo.com/Garudea Prabawati
56 unit hunian sub komunal dengan pengembangan teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) di kawasan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Semanggi, Solo, resmi diluncurkan, Jumat (8/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribunsolo.com, Garudea Prabawati

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kepala Puslitbang Perumahan dan Permukiman Kementerian Pekerja Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Arief berujar unit hunian sub komunal dengan pengembangan teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) di kawasan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Semanggi, Solo, tidak hanya sebatas pengembangan secara fisik saja.

"Namun arahnya lebih kepada pemberdayaan masyarakat lebih luas lagi , baik dari segi sosial juga ekonomi," katanya kepada Tribunsolo.com, usai meresmikan kawasan hunian baru tersebut, Jumat (8/2/2019).

Di mana kawasan hunian yang terdiri dari 56 unit ini juga dilengkapi dengan adanya pengolahan limbah rumah tangga secara mandiri.

Dinamakan Pengolaan Sampah Domestik Konsep Biomethagreen, di mana teknologi ini tepat guna yang tuntas, simpel, praktis, dan ramah lingkungan.

Kubu Prabowo-Sandiaga Bakal Bahas Strategi Pemenangan di Solo

Sehingga nantinya sumber sampah rumah tangga ini akan langsung dipilah masyarakat (penghuni hunian sub komunal Risha) terbagi menjadi sampah organik serta sampah anorganik.

Sampah anorganik dipilah berdasarkan jenisnya antara lain botol kaca, kertas , kaleng atau logam, dan plastik, dikembangkan menjadi kerajinan tangan.

Sementara sampah organik diolah mandiri melalui tahapan pertama pemilahan, misal sampah organik makanan sisa, sayuran, limbah cair dari septic tank misalnya, kotoran ternak, dan lainnya.

"Dan sampah-sampah tersebut nantinya dimasukkan ke lubang input Biodigester, dan melalui proses namanya anaerob (tanpa udara)," imbuhnya.

Pria Asal Banjarnegara Bikin Sayembara untuk Penemu Burung Merpatinya, Diberi Rp 30 Juta

Dan hasilnya dari proses tersebut yakni Biogas yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat menjadi bahan bakar pembangkit listrik juga bahan bakar kompor gas.

Dan kedua menghasilkan pupuk cair organik, dapat dimanfaatkan masyarakat untuk penyuburan tanaman dan dijual.

"Makanya konsep pengembangan hunian sub komunal Risha untuk penghapusan kawasan kumuh akan lebih optimal lagi, nilai sosial masyarakat dapat semakin baik, dan perekonomian masyarakat akan lebih bertumbuh," imbuhnya.

BPBD Klaten Gandeng Relawan Lokal Pantau Aktivitas Gunung Merapi

Tidak sampai disitu saja ternyata, juga dilengkapi dengan teknologi air asin, yakni pengolahan air yang memiliki kandungan logam berlebih, diolah dengan teknologi tersebut sehingga semakin aman dan sehat dikonsumsi masyarakat.

Mengetahui Konsep hunian Risha ini untuk Solo terdiri dari 2,5 lantai, dan juga selain 56 unit hunian saja namun juga satu unit mushola dan unit usaha masyarakat.

Hunian ini diperuntukkan bagi keluarga yang terdampak penataan bantaran Sungai Bengawan Solo, Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta memberlakukannya sebagai rumah singgah dengan sistem sewa, hampir sama dengan sistem rusunawa. (*)

Penulis: Garudea Prabawati
Editor: Putradi Pamungkas
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved