Pemilu 2019

Komisioner Bawaslu Sukoharjo Beri Tips Mengidentifikasi Berita Hoaks yang Marak Jelang Pemilu 2019

Komisioner Divisi Data Hukum dan Informasi Bawaslu Sukoharjo, Muladi Wibowo mengatakan, berita hoaks yang paling banyak muncul tentang calon presiden.

Komisioner Bawaslu Sukoharjo Beri Tips Mengidentifikasi Berita Hoaks yang Marak Jelang Pemilu 2019
TRIBUNSOLO.COM/AGIL TRI
Komisioner Divisi Data Hukum dan Informasi Bawaslu Sukoharjo, Muladi Wibowo (tengah), saat berfoto bersama anggota Panwascam Kartasura dengan memegang tulisan antihoaks di Kantor Kecamatan Kartasura, Jumat (22/3/2019) 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Dalam masa kampanye, berita hoaks semakin banyak mencuat, terlebih yang berkaitan dengan berita mengenai peserta Pemilu 2019.

Komisioner Divisi Data Hukum dan Informasi Bawaslu Sukoharjo, Muladi Wibowo mengatakan, berita hoaks yang paling banyak muncul tentang calon presiden.

"Terkait berita hoaks yang dibuat oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, paling banyak menyasar pada capres, baik 01 maupun 02, saya rasa itu skalanya nasional tidak terjadi di Sukoharjo saja," katanya seusai mengisi deklarasi di Kantor Kecamatan Kartasura, Jumat (22/3/2019).

Sebarannya melalui media sosial dan menurut Muladi yang paling banyak ditemukan melalui Whatsapp.

Untuk memastikan berita yang tersebar itu nyata atau hoaks, Muladi memberikan beberapa tipsnya.

Yang pertama, jika seseorang menerima suatu isu, untuk segera dipastikan kebenarannya melalui media mainstream yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers.

"Ketika menerima berita yang yang terindikasi hoaks, masyarakat bisa mencari kebenarannya melalui media berita yang sudah terverifikasi, sehingga masyarakat bisa tau apakah berita tersebut benar-benar terjadi atau tidak," katanya.

Dia menambahkan, jika sudah teriverifikasi berita tersebut dan ternyata berita trsebut adalah hoaks, maka masyarakat bisa membantu mengklarifikasi berita hoaks tersebut.

"Kemudian kita minta teman-teman ikut membantu memberikan informasi pembanding atas informasi hoaks tersebut," katanya.

Dia berharap untuk masyarakat tidak ikut menyebarkan berita hoaks tersebut, karena kebanyakan orang sering langsung klik share, tanpa membaca secara rinci berita yang dia share.

"Masyarakat sering kali terkecoh dengan judul tanpa memastikan terlebih dahulu atau membaca secara rinci berita tersebut."

"Istilahnya karena mungkin berkembangnya teknologi informasi, sehingga banyak juga masih gagap dalam penggunaanya, sehingga mereka lebih senang menyebarkan informasi dengan cepat karena biar tidak dianggap ketinggalan," katanya.

Padahal Wakapolsek Kartasura, Iptu Bariman, para pembuat berita hoaks ini memiliki motif tersendiri.

"Maksud hoaks itu menyebar fitnah, ada motif politik, unsur sara, ekonomi dan sosial, yang di sebar melalui media online seperti media sosial, atau memunculkan isu," katanya. (*)

Penulis: Agil Tri
Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved