Pilpres 2019

Ada yang Tak Mengakui 'Quick Qount', Eksponen Muda Muhammadiyah: Seperti Era Galileo Galilei

Eksponen Muda Muhammadiyah for Jokowi meminta Indonesia jangan ditarik ke era Galileo Galilei yang dinilai anti ilmu pengetahuan.

Ada yang Tak Mengakui 'Quick Qount', Eksponen Muda Muhammadiyah: Seperti Era Galileo Galilei
TRIBUNSOLO.COM/ASEP ABDULLAH ROWI
Presidium Nasional Eksponen Muda Muhammadiyah for Jokowi, Muhammad Fakhrial Aulia. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Asep Abdullah Rowi

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Eksponen Muda Muhammadiyah for Joko Widodo (Jokowi) tak ingin Indonesia ditarik ke era Galileo Galilei yang dinilai anti ilmu pengetahuan.

Presidium Nasional Eksponen Muda Muhammadiyah for Jokowi, Muhammad Fakhrial Aulia mengungkapkan, imbauan itu dikeluarkan karena menyikapi perkembangan politik pasca pencoblosan Pemilu 2019.

"Kita lihat ada sikap dari pihak tertentu yang menentang metode ilmiah hitung cepat (quick count)," ungkapnya dalam rilis yang diterima TribunSolo.com, Senin (22/4/2019).

Sikap tersebut lanjut Aulia yang juga Ketua Bidang Politik, Hukum, dan HAM Fokal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jateng itu adalah merupakan sikap anti ilmu pengetahuan.

UPDATE Real Count KPU Jokowi vs Prabowo Selasa 23 April Pukul 08.30 WIB, Siapa Lebih Unggul?

"Hal ini seperti yg dialami oleh Galileo Galilei pada eranya," tuturnya.

Padahal lanjut dia, penemuan metode ilmiah hitung cepat itu merupakan hadiah besar dari ilmu pengetahuan kepada proses demokratisasi di Indonesia.

Bahkan hitung cepat dari belasan lembaga survei atau pollster itu menurut dia, menggunakan metode ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan hasilnya secara terbuka kepada publik.

"Seharusnya tidak apriori terhadap hasil hitung cepat sambil menunggu hasil resmi yang akan dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU)," jelasnya.

Maruf Amin Ingin Bertemu Sandiaga, BPN Pilih Fokus Kawal Formulir C1

"Apalagi dalam pemilu-pemilu sebelumnya hasil hitung cepat tidak berbeda jauh dengan hasil resmi KPU," paparnya.

"Jadi tidak ada urgensinya untuk pemungutan suara ulang (PSU) di seluruh TPS se-Indonesia seperti yang digaungkan oleh pihak tertentu," tutur dia menegaskan.

Sebelumnya, capres Prabowo Subianto sempat menyebut lembaga survei yang mengeluarkan hitung cepat dengan keunggulan sementara Jokowi, berbohong dan meminta pindah ke Antartika saat acara Syukur Kemenangan Indonesia di kediaman pribadinya di Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019). 

Adapun hasil hitung cepat belasan lembaga survei menunjukkan Jokowi-Ma'ruf unggul sekitar 54 persen, sementara Prabowo-Sandi sekitar 45 persen. (*)

 
 

Penulis: Asep Abdullah Rowi
Editor: Hanang Yuwono
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved