Begini Lo Cara membaca Jam Matahari Berusia 300 Tahun di Masjid Agung Solo
Setelah ada jam konvensional, Jam Matahari tersebut tidak dipergunakan lagi.
Penulis: Imam Saputro | Editor: Junianto Setyadi
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Jam Matahari atau Jam Istiwa di Majid Agung Surakarta, dibangun pada masa pemerintahan Pakubowono IV, Raja Keraton Kasunanan di Solo sebagai penanda waktu salat.
Keberadaannya masih dilestarikan hingga saat ini.
Bentuknya berupa cekungan dari kuningan yang terdapat angka-angka, dan di atasnya ada besi berbentuk paku dengan posisi horisontal mengarah ke utara dan selatan terpasang di atas cekungan.
Sekretaris Masjid Agung Surakarta, Abdul Basid, menunjukkan bagaimana cara membaca jam tersebut kepada TribunSolo, Rabu (15/6/2016).
"Deretan angka di sisi barat itu angka 12-6 lalu sebaliknya, di bagian timur, angka 1 sampai 6, jadi kalau matahari pas persis jam 12 dan langit cerah, bayangan jarum akan tepat di tengah tengah di antara deretan itu," kata Abdul Basid.
Jam Matahari di halaman Masjid Agung Surakarta ini masih akurat menunjukkan waktu salat, tetapi sudah tidak lagi digunakan.
“Ini masih akurat dalam menunjukkan waktu salat, pernah diteliti oleh MUI juga, dan hasilnya masih akurat meski sudah berusia ratusan tahun,” tambah Abdul Basid.
Setelah ada jam konvensional, Jam Matahari tersebut tidak dipergunakan lagi.
Keberadaannya dilestarikan sebagai peninggalan sejarah masa lalu, dan menjadi daya tarik wisata. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/jam-matahari_20160615_154035.jpg)